Korea Selatan di Seoul teliti kebiasaan digital anak-anak dan dampaknya

korea selatan di seoul melakukan penelitian tentang kebiasaan digital anak-anak dan dampaknya terhadap perkembangan mereka.

Di Korea Selatan, konektivitas bukan lagi sekadar fasilitas, melainkan lanskap hidup sehari-hari. Di kereta bawah tanah Seoul, di lorong sekolah, hingga di ruang keluarga apartemen bertingkat, layar kecil ikut membentuk ritme: kapan anak-anak tertawa, kapan mereka belajar, dan kapan mereka sulit tidur. Kekhawatiran publik memuncak ketika cerita-cerita tentang remaja yang terjaga hingga dini hari karena media sosial menjadi percakapan umum, sementara guru mengeluhkan konsentrasi kelas yang kian rapuh. Pada saat yang sama, sekolah juga memerlukan teknologi untuk pembelajaran—mulai dari materi digital sampai komunikasi cepat dengan orang tua. Ketegangan antara “butuh” dan “berlebihan” inilah yang membuat penelitian tentang kebiasaan digital menjadi semakin penting, terutama ketika kebijakan nasional disiapkan untuk mengatur penggunaan ponsel di kelas.

Di Seoul, diskusi itu berubah menjadi tindakan terukur: negara mendorong riset, sekolah memetakan perilaku anak, dan parlemen menyiapkan payung hukum. Ketika undang-undang larangan ponsel di ruang kelas dijadwalkan berjalan mulai Maret 2026, fokusnya bukan hanya pada “melarang”, tetapi memahami dampak digital pada tidur, kecemasan, relasi sosial, dan prestasi. Artikel ini menelusuri bagaimana Korea Selatan membaca sinyal-sinyal ketergantungan digital, bagaimana data ditafsirkan menjadi kebijakan, bagaimana pro-kontra dibingkai sebagai hak dan tanggung jawab, serta bagaimana keluarga dan sekolah dapat membangun kebiasaan digital yang lebih sehat tanpa kehilangan manfaat teknologi.

  • Korea Selatan menetapkan larangan penggunaan smartphone di ruang kelas secara nasional, mulai berlaku Maret 2026 dengan pengecualian tertentu.
  • Di Seoul, penelitian dan pemetaan kebiasaan digital pelajar menyorot isu tidur, konsentrasi, dan kecemasan akibat media sosial.
  • Data menunjukkan porsi pelajar yang merasa hidupnya dipengaruhi media sosial dan yang cemas saat tak bisa mengakses akun.
  • Kelompok advokasi pemuda menilai larangan berpotensi mengganggu hak anak, sementara pendukung menekankan kualitas belajar.
  • Implementasi menuntut pelatihan guru, mekanisme penegakan yang manusiawi, dan pendidikan literasi/etika digital.
  • Tren global sudah tampak di Australia, Belanda, serta beberapa negara Eropa dan Asia dengan ragam tingkat pembatasan.

Korea Selatan di Seoul meneliti kebiasaan digital anak-anak: dari data kelas hingga kehidupan rumah

Di lingkungan urban seperti Seoul, perangkat digital sering menjadi “kunci” mobilitas dan identitas sosial. Anak-anak membawa ponsel bukan hanya untuk komunikasi, tetapi juga sebagai dompet digital, peta, kamera, hingga akses materi belajar. Dalam ekosistem yang nyaris selalu online, kebiasaan digital terbentuk sejak dini: notifikasi menentukan perhatian, algoritma menentukan selera, dan fitur “streak” menentukan rasa wajib membuka aplikasi. Karena itu, ketika pemerintah dan sekolah membahas pengendalian penggunaan ponsel di kelas, mereka tidak memulainya dari asumsi moral, melainkan dari penelitian tentang pola perilaku anak yang teramati.

Sejumlah temuan yang menjadi rujukan diskusi publik adalah sinyal-sinyal bahwa sebagian remaja mengalami hubungan yang tidak sehat dengan media sosial. Dalam pernyataan yang mengemuka di parlemen, seorang pengusul dari oposisi menggambarkan situasi yang terasa nyata bagi banyak orang tua: siswa tidur sangat larut karena berselancar di Instagram, lalu datang ke sekolah dengan mata memerah. Kisah semacam ini, walau anekdotal, berfungsi sebagai “alarm sosial” yang mendorong negara menuntut data yang lebih sistematis.

Kementerian Pendidikan Korea Selatan sebelumnya juga merilis hasil survei yang memberi gambaran kuantitatif. Proporsi pelajar SMP dan SMA yang mengaku kehidupan hariannya dipengaruhi oleh media sosial mencapai 37%. Angka lain yang tidak kalah penting: sekitar 22% menyatakan merasa cemas bila tidak dapat mengakses akun mereka. Dua angka ini sering dibaca sebagai pintu masuk untuk memahami ketergantungan digital: bukan semata durasi, melainkan dampak emosional ketika akses terputus.

Agar tidak terjebak pada perang angka, sekolah di Seoul banyak menambahkan metode observasi: catatan guru tentang konsentrasi, keterlambatan tugas, interaksi antarteman, dan pola kehadiran. Misalnya, seorang wali kelas bisa melihat pola sederhana: setelah akhir pekan, beberapa siswa tampak lebih mudah tersulut emosi, cepat mengantuk, dan cenderung mencari ponsel saat jeda pelajaran. Apakah itu semata karena ponsel? Tidak selalu. Namun, ketika pola tersebut berkorelasi dengan penggunaan gawai hingga larut, sekolah memiliki dasar untuk menyusun intervensi yang spesifik.

Di tingkat keluarga, orang tua juga ikut “meneliti” dengan cara mereka sendiri. Banyak yang menerapkan aturan jam layar, memantau aplikasi, atau mengubah rutinitas malam agar anak tidak terjebak menggulir tanpa akhir. Pendekatan seperti ini sejalan dengan wacana parenting di Korea Selatan yang menggabungkan disiplin, pengawasan, dan edukasi. Untuk pembaca yang ingin membandingkan praktik literasi digital di konteks lain, contoh program pelatihan etika digital bisa menjadi referensi bagaimana norma perilaku online dibahas secara formal, bukan sekadar larangan.

Namun, ada sisi lain yang membuat topik ini rumit: ponsel juga terhubung dengan pembelajaran, akses informasi, dan rasa aman. Anak yang pulang larut dari bimbingan belajar (hagwon) kerap diandalkan untuk mengirim lokasi kepada orang tua. Di titik ini, riset tentang perilaku anak tidak cukup hanya menanyakan “berapa jam”, tetapi juga “untuk apa”, “dengan siapa”, dan “kapan” perangkat digunakan. Insight kunci dari fase pemetaan ini sederhana namun kuat: mengelola teknologi berarti mengelola konteks, bukan menghapusnya dari kehidupan.

penelitian di seoul, korea selatan, mengkaji kebiasaan digital anak-anak dan dampaknya terhadap perkembangan mereka.

Dampak digital pada tidur, konsentrasi, dan kecemasan: membaca ketergantungan digital pada remaja Seoul

Ketika membahas dampak digital, perdebatan sering terjebak pada satu ukuran: durasi penggunaan. Padahal, banyak peneliti menilai bahwa kualitas penggunaan lebih menentukan. Dua anak bisa sama-sama menatap layar 3 jam, tetapi efeknya berbeda bila satu memakai aplikasi belajar dan satu lagi tenggelam dalam konten yang memicu perbandingan sosial. Di Seoul, kekhawatiran terbesar yang paling mudah terlihat adalah gangguan tidur. Tidur bukan sekadar istirahat; ia adalah fondasi emosi, daya ingat, dan kontrol impuls—tiga hal yang sangat dibutuhkan remaja di sekolah.

Gambaran yang disampaikan di parlemen tentang siswa bermain Instagram hingga jam dua atau tiga pagi memperlihatkan mekanisme klasik platform: umpan notifikasi, video pendek, dan “satu gulir lagi” yang terasa tidak pernah selesai. Jika anak tidur lebih singkat, pagi hari mereka datang dengan mata lelah, respons lebih lambat, dan toleransi frustrasi menurun. Dalam kelas yang menuntut fokus tinggi, kondisi ini mudah berubah menjadi konflik kecil, ketidakpatuhan, atau penurunan motivasi. Pada level ini, media sosial bukan cuma hiburan; ia menjadi variabel yang memengaruhi kesehatan.

Penelitian akademik juga menyoroti sisi kognitif. Studi Seoul National University (2023) misalnya, menunjukkan bahwa anak dengan screen time di atas 4 jam per hari memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah konsentrasi (sering disebut meningkat sekitar 30% dalam ringkasan populer). Informasi semacam ini membantu publik memahami bahwa konsentrasi bukan sekadar “kemauan”, melainkan kapasitas mental yang dapat terkikis oleh kebiasaan multitasking digital. Ketika anak terbiasa berpindah stimulus cepat—chat, video, feed—otak cenderung mencari variasi yang sama di ruang kelas, sehingga pelajaran terasa “terlalu lambat”.

Kecemasan adalah dampak lain yang sulit terlihat tetapi sering terasa. Angka survei Kementerian Pendidikan yang menyebut sekitar 22% pelajar cemas ketika tidak bisa mengakses akun menandakan adanya keterikatan emosional pada identitas online. Pada beberapa anak, rasa cemas itu muncul sebagai FOMO (fear of missing out): takut tertinggal gosip, takut tidak membalas pesan, takut tidak ikut tren. Pada yang lain, ia muncul sebagai tekanan performatif: posting harus bagus, komentar harus aman, dan jumlah like seolah menjadi evaluasi diri. Apakah ini berarti semua penggunaan digital buruk? Tentu tidak. Namun, sinyal-sinyal ini cukup kuat untuk menuntut intervensi yang lebih serius.

Di sisi sosial, penggunaan ponsel yang berlebihan juga dapat menggeser cara anak berinteraksi. Obrolan tatap muka berkurang, konflik pindah ke ruang digital, dan risiko perundungan online meningkat. Karena itu, pembatasan perangkat di sekolah sering dipasangkan dengan program pencegahan kekerasan dan pembentukan iklim kelas yang aman. Contoh pendekatan edukatif dapat dilihat dari inisiatif seperti edukasi anti-perundungan di sekolah yang menekankan perilaku menghormati orang lain, baik offline maupun online.

Sebagian sekolah juga mempertimbangkan faktor infrastruktur. Di tempat yang menyediakan internet sekolah, akses bisa diarahkan ke konten pembelajaran dengan pengaturan yang jelas. Diskusi tentang fasilitas seperti WiFi sekolah untuk pembelajaran relevan karena menunjukkan bahwa yang dibutuhkan bukan sekadar mematikan akses, melainkan membangun jalur akses yang lebih aman dan terarah. Insight kunci dari bagian ini: jika ketergantungan digital memengaruhi tidur, fokus, dan emosi, maka kebijakan sekolah harus berbicara dalam bahasa kesehatan dan perkembangan, bukan hanya disiplin.

Peralihan dari pemahaman dampak menuju kebijakan membuat pertanyaan berikutnya tak terelakkan: bagaimana negara dengan penetrasi perangkat begitu tinggi bisa menata ulang ruang kelas tanpa memicu penolakan besar?

Larangan smartphone di ruang kelas mulai Maret 2026: kebijakan nasional dan logika pendidikan di Korea Selatan

Kebijakan yang disahkan pemerintah Korea Selatan untuk melarang penggunaan smartphone dan perangkat digital lain di ruang kelas—dengan pemberlakuan mulai Maret 2026—menandai perubahan dari aturan lokal menjadi standar nasional. Sebelumnya, beberapa sekolah sudah membuat pembatasan masing-masing: ada yang menyita ponsel di pagi hari, ada yang membolehkan saat istirahat, ada pula yang hanya melarang saat pelajaran tertentu. Keragaman ini menciptakan celah: siswa bisa berargumen “di sekolah lain boleh”, orang tua membandingkan, guru kesulitan menegakkan aturan yang tidak seragam. Dengan kerangka hukum nasional, Korea Selatan mencoba menyamakan “aturan main” agar ruang kelas kembali fokus pada belajar.

Keputusan ini tidak dapat dilepaskan dari karakter negara yang sangat terkoneksi. Data dari Pew Research Center dalam beberapa tahun terakhir sering dikutip untuk menggambarkan situasi ekstrem: sekitar 98% warga memiliki ponsel dan sekitar 99% terhubung ke internet, dengan kepemilikan smartphone termasuk yang tertinggi di antara banyak negara yang dibandingkan. Dalam konteks seperti itu, sekolah menjadi salah satu dari sedikit ruang yang masih bisa “diatur” secara kolektif. Rumah berbeda-beda; jalanan sulit dikontrol; tetapi sekolah punya struktur, jadwal, dan otoritas pedagogis.

Logika pendidikan di balik larangan ini tidak hanya soal mengurangi gangguan. Banyak pendukung menekankan bahwa smartphone menciptakan “fragmentasi perhatian” yang membuat pelajaran terasa bersaing dengan dunia lain yang lebih menarik. Saat notifikasi muncul, otak merespons bahkan ketika layar tidak dibuka. Di kelas, ini dapat menurunkan kualitas diskusi, mempersingkat daya tahan membaca panjang, dan mengurangi keberanian bertanya karena siswa cenderung mencari jawaban cepat di mesin pencari. Pada titik ini, larangan diposisikan sebagai desain lingkungan belajar: mengurangi stimulus yang tidak relevan agar interaksi guru-siswa kembali menjadi pusat.

Kebijakan nasional juga memuat pengecualian yang penting. Penggunaan perangkat tetap dimungkinkan untuk keperluan pendidikan, misalnya proyek tertentu yang memerlukan aplikasi khusus, atau saat guru merancang aktivitas digital terstruktur. Selain itu, siswa penyandang disabilitas bisa membutuhkan perangkat sebagai alat bantu akses. Pengecualian ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak menganggap teknologi sebagai musuh, melainkan alat yang harus ditempatkan pada waktu dan fungsi yang tepat. Sekolah yang cerdas akan memanfaatkan pengecualian ini untuk membangun literasi, bukan sekadar mengendurkan larangan.

Untuk menghindari penegakan yang keras, banyak sekolah diperkirakan akan mengadopsi mekanisme yang praktis: kotak penyimpanan ponsel di kelas, loker khusus di lorong, atau sistem “parkir perangkat” dengan nomor. Mekanisme ini harus disertai protokol privasi dan keamanan agar ponsel tidak hilang atau rusak. Di sinilah peran pelatihan staf menjadi krusial: guru perlu tahu cara menghadapi penolakan, cara bernegosiasi dengan siswa yang merasa “butuh”, dan cara mengalihkan energi kelas menjadi aktivitas belajar yang lebih menarik.

Menariknya, kebijakan ini juga membuka peluang untuk memperkuat literasi keamanan online. Ketika akses dibatasi di sekolah, percakapan tentang keamanan justru dapat diperdalam: bagaimana mengelola kata sandi, menghindari penipuan, dan memahami jejak digital. Referensi seperti panduan keamanan internet untuk anak memberi contoh bahwa pendidikan protektif tidak harus menunggu masalah terjadi. Insight kunci dari bagian ini: larangan adalah alat penataan ruang, tetapi keberhasilannya ditentukan oleh desain implementasi yang manusiawi dan konsisten.

Begitu kebijakan diterapkan, perdebatan biasanya bergeser: bukan lagi “perlu atau tidak”, melainkan “adil atau tidak”. Di situlah isu hak anak dan kebebasan muncul kuat.

Pro-kontra larangan ponsel: hak anak, disiplin sekolah, dan perilaku anak di ruang publik Seoul

Setiap kebijakan pembatasan membawa konsekuensi sosial. Di Korea Selatan, sebagian kelompok advokasi pemuda menilai larangan ponsel di sekolah bisa melanggar hak asasi anak—terutama bila diterapkan tanpa ruang dialog. Argumen mereka biasanya bertumpu pada tiga hal. Pertama, ponsel adalah alat komunikasi dan keamanan, terutama bagi siswa yang pulang malam dari hagwon. Kedua, ponsel adalah media ekspresi dan akses informasi, yang jika dibatasi terlalu ketat dapat menekan kemandirian. Ketiga, larangan menyeluruh dianggap mengabaikan perbedaan kebutuhan tiap anak: ada yang mampu mengatur diri, ada yang butuh bantuan, bukan hukuman kolektif.

Di sisi lain, sekolah dan pendukung kebijakan menekankan prinsip bahwa hak selalu berpasangan dengan tanggung jawab, dan ruang kelas adalah ruang khusus dengan tujuan jelas. Mereka berargumen: kebebasan menggunakan ponsel di kelas dapat mengurangi hak teman lain untuk belajar tanpa gangguan. Ini bukan sekadar urusan “sopan” atau “taat”, melainkan soal kualitas pendidikan. Pendukung juga mengaitkan larangan dengan kesehatan mental dan tidur, karena ruang kelas bisa menjadi titik awal perubahan kebiasaan: jika anak terbiasa meletakkan ponsel pada jam tertentu, kontrol diri dapat dilatih secara bertahap.

Perdebatan makin tajam ketika menyentuh pertanyaan: apakah larangan benar-benar efektif? Contoh dari Belanda sering digunakan untuk mendukung kebijakan pembatasan. Sebuah studi yang banyak dikutip menyebut sekitar 70% siswa melaporkan peningkatan konsentrasi dan keterlibatan setelah sekolah menerapkan pembatasan smartphone. Walau konteks budaya berbeda, angka ini berfungsi sebagai bukti bahwa “mengubah lingkungan” bisa cepat terasa efeknya, terutama pada kegiatan diskusi, membaca, dan kerja kelompok. Negara seperti Australia dan Belanda bahkan sudah lebih dulu menjalankan kebijakan serupa, sementara Prancis, Finlandia, Italia, dan China memiliki variasi regulasi yang menempatkan sekolah sebagai zona fokus.

Namun, kritik yang masuk akal juga perlu didengar: larangan dapat memindahkan masalah ke luar sekolah. Jika anak tidak boleh membuka ponsel di kelas, mereka bisa “balas dendam” dengan penggunaan berlebih setelah pulang. Karena itu, kebijakan sekolah semestinya disertai penguatan di rumah dan komunitas. Program literasi membaca, misalnya, bisa menjadi alternatif aktivitas yang memulihkan perhatian panjang (deep attention). Inisiatif komunitas seperti komunitas baca yang menghidupkan minat literasi memberi gambaran bagaimana kegiatan offline dapat menjadi penyeimbang nyata terhadap dorongan layar.

Ada pula dimensi ruang kota. Seoul memiliki banyak ruang publik tertata—taman, perpustakaan, pusat komunitas—yang dapat menjadi tempat anak bersosialisasi tanpa selalu bergantung pada layar. Di Indonesia, pembahasan tentang ruang terbuka untuk aktivitas warga menunjukkan pentingnya menyediakan arena alternatif agar anak tidak mengisi seluruh waktu luang dengan gawai. Ketika ruang fisik ramah anak terbatas, ponsel sering menjadi “pelarian termurah”. Karena itu, kebijakan sekolah akan lebih efektif jika kota juga menyediakan pilihan aktivitas.

Pada akhirnya, pro-kontra yang sehat harus mendorong penyempurnaan implementasi: mekanisme banding bagi siswa dengan kebutuhan khusus, komunikasi jelas kepada orang tua, dan indikator keberhasilan yang transparan. Insight kunci dari bagian ini: kebijakan yang kuat bukan yang paling keras, melainkan yang mampu menyeimbangkan hak, keselamatan, dan tujuan belajar dengan ukuran yang bisa diuji.

penelitian di seoul, korea selatan, mengeksplorasi kebiasaan digital anak-anak dan dampaknya terhadap perkembangan mereka.

Strategi sekolah dan orang tua: membangun kebiasaan digital sehat tanpa menghapus teknologi dari kehidupan anak-anak

Ketika ruang kelas dibatasi dari ponsel, tanggung jawab membangun kebiasaan baru tidak otomatis selesai. Justru, fase paling menentukan adalah setelah aturan berjalan: apakah anak-anak belajar mengatur diri, atau hanya patuh karena takut disita? Di Seoul, pendekatan yang lebih efektif biasanya menggabungkan disiplin dengan edukasi, karena tujuan akhirnya adalah kemandirian. Ini berarti sekolah dan orang tua perlu menyusun “ekosistem” kebiasaan, bukan sekadar daftar larangan.

Salah satu pijakan yang sering dipakai adalah memetakan waktu rawan. Banyak keluarga menemukan bahwa jam paling riskan adalah setelah pulang sekolah (saat lelah), dan menjelang tidur (saat tidak ada aktivitas). Jika ponsel dibiarkan bebas pada dua rentang ini, peluang bergulir tanpa henti meningkat. Maka, strategi yang realistis adalah membuat ritual kecil: 30–60 menit transisi setelah pulang untuk makan ringan, mandi, atau jalan singkat; lalu “jam tenang” sebelum tidur dengan ponsel ditempatkan di luar kamar. Langkah ini sederhana, tetapi efektif menutup pintu pada kebiasaan begadang.

Di sekolah, strategi yang terasa manusiawi adalah mengganti “stimulus digital” dengan aktivitas yang menuntut keterlibatan. Guru bisa merancang diskusi kelompok singkat, eksperimen mini, atau latihan menulis reflektif. Untuk beberapa mata pelajaran, ponsel bisa diizinkan secara terbatas saat ada tugas berbasis proyek, sehingga siswa belajar bahwa teknologi adalah alat kerja, bukan pelarian. Kuncinya adalah transparansi: kapan boleh, untuk apa, dan bagaimana mengakhirinya. Ketika aturan jelas, konflik berkurang karena siswa paham bahwa pembatasan bukan hukuman personal.

Orang tua juga dapat mempraktikkan “keteladanan digital”. Anak cepat menangkap inkonsistensi: dilarang bermain ponsel saat makan, tetapi orang tua sendiri sibuk membalas chat. Di banyak keluarga Seoul, aturan dibuat bersama, misalnya “zona tanpa ponsel” di meja makan dan “waktu layar” yang dinegosiasikan pada akhir pekan. Perjanjian ini lebih kuat bila disertai alternatif menyenangkan: memasak bersama, olahraga ringan, atau kegiatan budaya. Contoh kegiatan komunitas seperti kegiatan budaya berbasis etnis mengingatkan bahwa keterlibatan sosial offline dapat dibangun lewat acara yang memberi rasa memiliki.

Untuk memastikan strategi tidak hanya berdasar intuisi, sekolah dan orang tua dapat memakai indikator sederhana yang mudah dipantau. Tabel berikut membantu melihat hubungan antara kebiasaan dan dampaknya, tanpa menghakimi anak:

Aspek yang Dipantau
Contoh Kebiasaan Digital
Sinyal Masalah yang Muncul
Intervensi Realistis
Tidur
Menggulir media sosial setelah lampu dimatikan
Mengantuk di kelas, mata memerah, telat bangun
Parkir ponsel di luar kamar, alarm analog, jam tenang 45 menit
Konsentrasi
Multitasking (chat saat mengerjakan PR)
Tugas sering tidak selesai, mudah terdistraksi
Metode pomodoro tanpa ponsel, blok notifikasi saat belajar
Kecemasan
Takut ketinggalan notifikasi dan tren
Gelisah saat ponsel jauh, mood naik turun
Jadwal cek akun, latihan jeda, aktivitas offline terstruktur
Relasi sosial
Interaksi dominan lewat grup chat
Salah paham, konflik online, menarik diri
Aturan komunikasi sehat, dukungan konselor, kegiatan kelompok

Karena kebijakan ponsel juga bersinggungan dengan kesehatan, sekolah dapat mengaitkannya dengan edukasi keseharian: tidur cukup, sarapan, dan manajemen stres. Referensi seperti kebiasaan sarapan sehat relevan untuk menunjukkan bahwa fokus belajar tidak berdiri sendiri; ia dipengaruhi rutinitas tubuh. Bahkan program kesehatan komunitas seperti dukungan vaksin anak menggambarkan bagaimana kebijakan publik dan perilaku keluarga saling menguatkan, meski konteksnya berbeda.

Pada akhirnya, tujuan terbesar adalah membantu anak-anak mengenali kapan perangkat membantu dan kapan ia menguasai. Jika sekolah di Korea Selatan berhasil menjadikan larangan kelas sebagai pintu menuju literasi dan kontrol diri, maka kebijakan tersebut tidak berhenti sebagai pembatasan—ia berubah menjadi pelatihan hidup. Insight kunci dari bagian ini: perubahan paling tahan lama lahir ketika aturan bertemu kebiasaan baru yang terasa masuk akal bagi anak, bukan sekadar dipaksakan.

kunjungi laman berita terbaru di Exposenews.id

Berita terbaru
Berita terbaru

En bref Di Jakarta, cerita tentang karier tidak lagi bergerak lurus: seseorang bisa menjadi staf

Pagi di lereng Gangga sering dimulai dengan aroma tanah basah dan suara petani memeriksa tanaman.

Di Makassar, pembenahan kearsipan tak lagi sekadar soal memindahkan map ke rak yang lebih rapi.

Di Jakarta Selatan, gagasan tentang pangan sehat tak lagi berhenti pada poster gizi di posyandu

Di Kota Solo, narasi tentang batik, keraton, dan kuliner tradisional kini berjalan beriringan dengan cerita

En bref Di Perth, perdebatan tentang masa depan kota tidak lagi sebatas transportasi dan harga