Pemerintah Jakarta siapkan peta jalan penguatan ekonomi kreatif ibu kota

  • Pemerintah Provinsi DKI dan Kementerian Ekraf menandai babak baru kolaborasi untuk menyiapkan peta jalan penguatan ekosistem ekonomi kreatif Jakarta.
  • Kerja sama ini diposisikan sebagai langkah cepat yang selaras dengan amanat UU Daerah Khusus Jakarta dan agenda kerja awal kepemimpinan daerah.
  • Targetnya bukan sekadar acara seremonial, melainkan manfaat konkret: akses pasar, fasilitas produksi, promosi global, dan kebijakan berbasis data.
  • Subsektor prioritas meluas dari kuliner dan fesyen hingga film-animasi dan gim, dengan fokus pada peningkatan kualitas, daya saing, dan pekerjaan.
  • Rangkaian program diproyeksikan menjadi pemanasan menuju 500 tahun Jakarta pada 2027, agar perayaan berbuah peluang bisnis kreatif berkelanjutan.

Di tengah perubahan peran Jakarta setelah pusat pemerintahan berangsur pindah, Jakarta justru dituntut makin lincah sebagai episentrum ekonomi. Cara kerjanya tidak lagi semata mengandalkan gedung-gedung perkantoran, melainkan juga jaringan talenta, ruang kreasi, dan pasar global yang terhubung secara digital. Karena itu, langkah Pemerintah Provinsi DKI bersama Kementerian Ekonomi Kreatif untuk merancang peta jalan penguatan ekonomi kreatif menjadi sinyal penting: kota ini ingin menang lewat nilai tambah, bukan hanya lewat skala. Nota kesepakatan yang ditandatangani di Balai Kota membuka ruang koordinasi lintas program—dari event tematik, penguatan koridor kreatif, sampai pertukaran data—agar kebijakan tidak berjalan sporadis. Di lapangan, pelaku kuliner rumahan, studio animasi kecil, hingga perancang busana butik membutuhkan hal yang sama: kepastian akses, promosi yang tepat, dan ekosistem yang membuat kreativitas berubah menjadi pendapatan. Jika peta jalan ini benar-benar dipakai sebagai kompas, transformasi menuju kota global tidak berhenti di slogan, tetapi menyentuh cara orang bekerja, berjualan, dan berkarya setiap hari.

Pemerintah Jakarta Menyusun Peta Jalan Penguatan Ekonomi Kreatif Ibu Kota Menuju Kota Global

Kesepakatan antara Pemprov DKI dan Kementerian Ekraf/Bekraf bukan sekadar dokumen kerja sama; ia berfungsi sebagai “rambu” yang menyatukan banyak program yang sebelumnya berjalan terpisah. Di tingkat kota, tantangannya klasik: talenta kreatif melimpah, tetapi rantai nilai sering putus di tengah—antara produksi, pembiayaan, kurasi, hingga distribusi. Maka, peta jalan yang disiapkan diarahkan untuk menjawab pertanyaan praktis: apa yang dikerjakan dulu, siapa yang memimpin, dan indikator apa yang dipakai untuk menilai dampaknya.

Dalam lanskap transformasi ibu kota, Jakarta memerlukan strategi ekonomi yang menghubungkan sektor makro dan mikro. Di satu sisi, kota perlu tetap menarik bagi investasi dan penyelenggaraan event berskala besar. Di sisi lain, pelaku bisnis kreatif membutuhkan dukungan harian—misalnya akses perizinan yang sederhana, tempat uji coba produk, sampai kanal pemasaran lintas negara. Peta jalan ini, bila disusun dengan disiplin, akan menempatkan keduanya dalam satu alur: event besar menjadi lokomotif permintaan, sementara UMKM kreatif menjadi pemasok nilai tambah.

Menjawab Amanat UU Daerah Khusus Jakarta dengan Program yang Terukur

Amanat UU Nomor 2 Tahun 2024 tentang Daerah Khusus Jakarta menekankan arah transformasi Jakarta sebagai pusat perekonomian nasional sekaligus kota global. Dalam praktiknya, mandat itu menuntut kebijakan yang konsisten dan lintas periode. Karena itulah, peta jalan penguatan ekonomi kreatif perlu dirancang dalam horizon beberapa tahun, namun tetap punya “kemenangan cepat” yang bisa dirasakan.

Salah satu cara membuat mandat undang-undang terasa nyata adalah menurunkannya menjadi standar layanan. Misalnya: berapa lama proses fasilitasi hak kekayaan intelektual, bagaimana mekanisme kurasi produk untuk pameran internasional, atau seberapa cepat pelaku kreatif bisa memperoleh akses lokasi untuk pop-up market. Kota-kota lain memberi pelajaran penting tentang modernisasi layanan: penggunaan identitas digital dan tanda tangan elektronik mempercepat birokrasi, sebagaimana terlihat pada praktik transformasi tanda tangan digital di Denpasar yang memotong waktu layanan dan mengurangi biaya administrasi. Jakarta bisa mengadaptasi model serupa untuk perizinan event kreatif dan kontrak kolaborasi antarpelaku.

Pada akhirnya, mandat hukum baru akan terasa bukan karena banyaknya rapat, melainkan karena pelaku kreatif merasakan “pintu-pintu” yang dulu berat kini terbuka. Insight kuncinya: regulasi yang besar harus turun menjadi pengalaman layanan yang sederhana.

Dari Nota Kesepakatan ke Dampak: Cara Menghindari Program Seremonial

Di banyak kota, kerja sama pemerintah pusat-daerah kerap berhenti pada seremoni. Untuk menghindari pola itu, peta jalan Jakarta perlu memuat kerangka eksekusi: unit penanggung jawab, jadwal, dan ukuran hasil. Misalnya, untuk subsektor film-animasi, ukuran hasilnya bukan hanya jumlah workshop, melainkan jumlah proyek yang mencapai penjualan lisensi atau masuk platform distribusi.

Anekdot yang sering terdengar dari pelaku kreatif adalah “kami butuh panggung, tapi juga butuh pasar.” Di sinilah peran event tematik yang dirancang bersama: event menjadi jembatan antara karya dan pembeli. Namun event harus dilengkapi mekanisme tindak lanjut seperti katalog digital, pertemuan B2B terjadwal, dan pendampingan negosiasi kontrak. Peta jalan yang baik akan menyebutkan itu dengan detail, termasuk anggaran dan sumber daya manusia.

Jaringan kolaborasi lintas kota juga penting. Jakarta bisa belajar dari ekosistem inovasi yang dibangun melalui ruang inkubasi dan kemitraan riset seperti yang banyak dibahas dalam penguatan pusat inovasi teknologi di Bandung, terutama dalam hal menghubungkan kampus, industri, dan komunitas. Jika Jakarta ingin menjadi simpul kreatif global, ia perlu memperlakukan studio kecil dan komunitas sebagai “laboratorium kota” yang terus diuji.

Bagian terpenting dari peta jalan adalah disiplin eksekusi: siapa melakukan apa, kapan, dan apa dampaknya bagi pelaku. Itu yang membedakan strategi dari slogan.

Kontribusi Ekonomi Kreatif terhadap PDRB Jakarta dan Arah Pengembangan Ekonomi Berbasis Data

Ketika BPS pada 2024 mencatat kontribusi sektor kreatif mendekati 11% terhadap PDRB DKI Jakarta, angka itu seharusnya dibaca sebagai dua hal sekaligus. Pertama, ada basis ekonomi yang sudah besar—artinya ruang akselerasi masih terbuka. Kedua, ukuran “kreatif” di kota metropolitan sering menyebar ke berbagai aktivitas: dari kuliner, fesyen, konten digital, sampai pertunjukan. Karena itu, peta jalan membutuhkan pendekatan data yang mampu memetakan rantai nilai, bukan hanya menghitung pelaku.

Di 2026, kebijakan berbasis data bukan lagi opsi. Platform pembayaran, marketplace, dan media sosial menghasilkan jejak permintaan yang bisa membantu pemerintah menentukan prioritas: koridor mana yang paling potensial, subsektor mana yang kekurangan akses pembiayaan, dan event mana yang paling efektif mendorong transaksi. Pertukaran data dan informasi yang disebut dalam kesepakatan menjadi krusial agar kebijakan tidak “menebak-nebak” kebutuhan industri.

Mengubah Data Menjadi Keputusan: Dari Koridor Kreatif hingga Kalender Event

Koridor kreatif sering dipahami sebagai kawasan yang “ramai kafe dan galeri.” Padahal, koridor yang produktif harus memiliki logika ekonomi: akses transportasi, kedekatan dengan komunitas, biaya sewa yang rasional, dan koneksi dengan pembeli. Dengan data yang tepat, Jakarta bisa menetapkan beberapa koridor unggulan untuk subsektor tertentu—misalnya desain dan fesyen, konten digital, atau seni pertunjukan—lalu menyiapkan fasilitas yang sesuai, dari ruang pamer hingga studio bersama.

Kalender event tematik pun perlu ditata seperti portofolio investasi. Event tidak boleh saling kanibal; ia harus menyasar segmen berbeda dan terhubung dengan target pasar. Misalnya, festival kuliner menargetkan wisatawan dan keluarga, sementara pameran gim menargetkan investor, publisher, dan komunitas global. Dalam perencanaan, pemerintah bisa meniru cara kota-kota mengelola risiko perkotaan: mereka menggabungkan data, infrastruktur, dan perilaku warga. Sebagai perbandingan, pendekatan integratif dalam program pengendalian banjir Surabaya menunjukkan bahwa peta risiko yang jelas memudahkan prioritas tindakan. Untuk ekonomi kreatif, “peta risiko” bisa berarti peta hambatan: sewa mahal, perizinan, distribusi, atau kekurangan SDM.

Jika data dipakai dengan benar, peta jalan tidak hanya mendeskripsikan harapan, tetapi juga menunjukkan urutan tindakan yang logis dan dapat dipertanggungjawabkan.

Tabel Prioritas Peta Jalan: Fokus, Intervensi, dan Indikator

Fokus Peta Jalan
Contoh Intervensi
Indikator Hasil yang Bisa Diukur
Event tematik
Festival kuliner, pekan fesyen, market kreator, showcase animasi
Nilai transaksi, jumlah kontrak B2B, pertumbuhan kunjungan, repeat buyer
Koridor ekonomi kreatif
Penataan ruang pamer, studio bersama, akses transport, signage kawasan
Kenaikan okupansi tenant kreatif, jumlah kolaborasi lintas pelaku
Akses pasar global
Katalog digital, kurasi produk, misi dagang kreatif, kemitraan platform
Ekspor/penjualan lintas negara, lisensi IP, pertumbuhan pelanggan luar negeri
Data & kebijakan
Dashboard subsektor, survei rutin, integrasi data pelatihan-perizinan
Waktu layanan menurun, kebijakan tepat sasaran, kepuasan pelaku meningkat

Tabel di atas memperlihatkan bagaimana pengembangan ekonomi kreatif dapat dikelola seperti portofolio program: ada fokus, ada alat intervensi, dan ada indikator. Tanpa indikator, peta jalan mudah menjadi sekadar daftar kegiatan.

Dengan fondasi data dan indikator yang jelas, pembahasan berikutnya menjadi penting: subsektor apa saja yang perlu diprioritaskan, dan bagaimana memastikan pelaku kecil tidak tertinggal ketika program mulai berjalan.

Strategi Ekonomi Lintas Subsektor: Kuliner, Fesyen, Seni Pertunjukan, Film-Animasi, dan Gim

Pernyataan Kementerian Ekraf tentang perlunya penguatan lintas subsektor menegaskan satu kenyataan: tidak ada satu mesin tunggal dalam ekonomi kreatif. Kuliner memiliki perputaran cepat, fesyen unggul pada identitas merek, seni pertunjukan kuat di pengalaman, sementara film-animasi dan gim bertumpu pada IP (kekayaan intelektual) dan skala distribusi digital. Strategi ekonomi Jakarta harus memahami karakter masing-masing, lalu menyatukannya dalam ekosistem yang saling menguatkan.

Di kota besar, persoalannya bukan hanya menciptakan talenta, melainkan menjaga talenta bertahan. Banyak kreator pindah platform, pindah kota, atau bahkan pindah profesi karena pendapatan tidak stabil. Peta jalan yang baik akan memasukkan skema keberlanjutan pendapatan: dari komisi proyek, akses pembiayaan mikro, sampai pembelian layanan oleh institusi publik (misalnya desain kampanye kota yang dipesan kepada studio lokal).

Studi Kasus Fiktif: “Studio Rona” dan Rantai Nilai yang Sering Putus

Bayangkan “Studio Rona”, studio kecil di Jakarta yang mengerjakan animasi pendek untuk brand lokal. Timnya kuat secara artistik, tetapi lemah dalam negosiasi kontrak dan distribusi. Mereka sering kehabisan dana di tengah produksi karena pembayaran mundur. Ketika peta jalan berbicara tentang fasilitas dan pemasaran, kebutuhan Studio Rona sangat konkret: template kontrak standar, akses pembiayaan jembatan, dan pintu ke distributor atau platform.

Jika pemerintah menyediakan program pendampingan bisnis yang benar-benar praktis—misalnya klinik kontrak mingguan dan matchmaking dengan pembeli—maka studio seperti ini bisa naik kelas. Pada titik tertentu, Studio Rona dapat mengembangkan IP sendiri dan menjual lisensinya. Dampaknya berlapis: lapangan kerja bertambah, pajak meningkat, dan reputasi kota terdongkrak. Inilah contoh bagaimana penguatan ekosistem bekerja dari bawah ke atas.

Daftar Program yang Relevan untuk Menggerakkan Bisnis Kreatif

  • Inkubasi dan akselerasi untuk subsektor digital (gim, animasi, konten), termasuk akses mentor bisnis dan hukum.
  • Kurasi produk untuk kuliner dan fesyen agar siap masuk ritel modern dan pasar ekspor.
  • Skema pembiayaan bertahap (micro grant, bridge funding, hingga co-investment) berbasis milestone.
  • Ruang tampil dan ruang jual yang terjadwal di ruang publik, terhubung dengan kalender wisata kota.
  • Program pelindungan IP yang mudah diakses, termasuk edukasi merek dagang dan lisensi.

Daftar di atas akan terasa efektif jika diterapkan dengan disiplin eksekusi. Tanpa itu, pelaku hanya merasakan pelatihan tanpa pintu pasar.

Mengaitkan Ekonomi Kreatif dengan Isu Kerja Modern dan Daya Tarik Talenta

Jakarta bersaing memikat talenta dengan kota-kota global yang menawarkan fleksibilitas kerja dan kualitas hidup. Kebijakan kerja modern—seperti jam kerja fleksibel, ruang kerja bersama, dan dukungan kesehatan mental—secara tidak langsung mendorong produktivitas kreator. Praktik di kota global menjadi referensi, misalnya tren kerja fleksibel di London yang membuat perusahaan kreatif lebih mudah mempertahankan talenta lintas generasi. Jakarta dapat menyesuaikannya melalui insentif ruang kerja, regulasi event malam yang aman, dan transportasi yang mendukung mobilitas pekerja kreatif.

Ketika subsektor diperkuat secara spesifik dan talenta dibuat betah, ekonomi kreatif berubah menjadi mesin pertumbuhan kota. Berikutnya, tantangan besar adalah memastikan infrastruktur kota—fisik dan sosial—ikut menopang laju tersebut.

Infrastruktur Kota, Ruang Publik, dan Kesiapan Layanan: Fondasi Penguatan Ekonomi Kreatif Jakarta

Peta jalan sering dianggap urusan dinas ekonomi atau pariwisata. Padahal, penguatan ekonomi kreatif sangat ditentukan oleh infrastruktur dasar: jalan yang layak, konektivitas transportasi, ruang publik yang aman, serta layanan kota yang responsif. Kreator tidak bisa konsisten menggelar acara jika akses lokasi sulit, biaya logistik tinggi, atau keamanan belum meyakinkan. Di sini, Pemerintah kota perlu memandang ekosistem kreatif sebagai “pengguna utama” kota, bukan sekadar pengisi acara.

Jakarta memiliki banyak ruang yang bisa dijadikan panggung kreativitas: taman kota, kawasan heritage, hingga koridor bisnis. Namun, ruang publik yang hidup tidak tercipta otomatis. Ia perlu pengelolaan jadwal, kurasi kegiatan, dan aturan yang adil agar komunitas kecil punya kesempatan yang sama dengan promotor besar. Ketika ruang publik dikelola dengan prinsip inklusif, acara kecil bisa menjadi embrio festival besar, dan ekonomi mikro berputar dari satu akhir pekan ke akhir pekan berikutnya.

Konektivitas dan Perawatan Infrastruktur: Hal “Tidak Seksi” yang Menentukan Transaksi

Peningkatan jumlah event dan koridor kreatif akan menaikkan mobilitas orang dan barang. Ini membutuhkan jalan yang baik, trotoar nyaman, dan titik drop-off yang jelas. Banyak pelaku kreatif—terutama kuliner—bergantung pada logistik harian: bahan baku, peralatan booth, sampai distribusi pesanan. Ketika akses tersendat, biaya naik dan kualitas layanan turun.

Pembelajaran bisa diambil dari kota/kabupaten yang menaruh perhatian besar pada pemeliharaan jalan sebagai prasyarat ekonomi lokal. Contohnya, praktik perbaikan jalan rusak di Medan memperlihatkan bagaimana perawatan rutin memulihkan arus aktivitas warga dan perdagangan. Jakarta membutuhkan pendekatan serupa pada titik-titik yang menjadi rute utama event dan distribusi pelaku kreatif, termasuk akses menuju pusat pameran dan kawasan wisata.

Ketika infrastruktur dasar terjaga, pelaku kreatif bisa fokus pada inovasi produk, bukan pada masalah yang seharusnya selesai di level kota.

Ruang Publik sebagai Mesin Pengembangan Ekonomi dan Identitas Kota

Ruang publik adalah “etalase” identitas kota global. Di sinilah seni pertunjukan bertemu keluarga, brand lokal bertemu turis, dan komunitas bertemu investor. Program ruang publik yang ramah dan terjadwal dapat memperkuat permintaan untuk pelaku kreatif. Yang dibutuhkan bukan hanya izin, melainkan manajemen kurasi: siapa tampil, kapan, dengan standar teknis apa. Pertanyaan retorisnya: bagaimana penonton mau datang kembali jika kualitas pengalaman tidak dijaga?

Di sisi lain, literasi budaya juga penting agar ruang kreatif tidak hanya dinikmati kelompok tertentu. Penguatan minat baca, misalnya, bisa menjadi bagian dari peta jalan karena ia menumbuhkan audiens untuk industri konten dan penerbitan. Inspirasi bisa datang dari gerakan komunitas seperti yang dibahas pada penguatan komunitas baca di Bandung Barat, yang menunjukkan bahwa ekosistem kreatif bisa tumbuh dari kebiasaan sederhana: membaca, berdiskusi, lalu berkarya.

Jika ruang publik dikelola dengan konsisten, ia berubah dari “tempat nongkrong” menjadi mesin transaksi, pendidikan budaya, dan reputasi kota.

Ketahanan Sosial untuk Menjaga Kreativitas: Anti-Perundungan dan Kesehatan Mental

Industri kreatif sangat bergantung pada keberanian bereksperimen. Namun keberanian itu mudah runtuh jika lingkungan kerja dan komunitas tidak sehat. Perundungan di sekolah, komunitas, atau tempat kerja dapat mematikan potensi talenta sejak dini. Program edukasi sosial menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem kreatif modern, termasuk kampanye anti-perundungan yang sudah banyak digerakkan di berbagai daerah seperti yang terlihat pada edukasi anti-perundungan di Surabaya.

Selain itu, kesehatan mental pekerja kreatif perlu perhatian karena pola kerja proyek cenderung intens dan tidak stabil. Kota dapat mendorong akses konseling komunitas, ruang kerja yang manusiawi, dan edukasi manajemen stres. Praktik kampanye publik seperti kampanye kesehatan mental di Bandung memberi gambaran bagaimana isu ini bisa diangkat tanpa stigma, sekaligus meningkatkan produktivitas dan retensi talenta.

Ketika infrastruktur fisik dan sosial ditata, peta jalan ekonomi kreatif akan punya fondasi yang kuat. Langkah berikutnya adalah menautkan semuanya ke target besar: perayaan 500 tahun Jakarta dan pembuktian reputasi kota di panggung global.

Menjelang 500 tahun Jakarta pada 2027, perayaan berpotensi menjadi katalis besar bagi pengembangan ekonomi—tetapi juga bisa menjadi pesta sesaat jika tidak ditopang desain program yang berkelanjutan. Karena itu, peta jalan penguatan ekonomi kreatif perlu menjadikan momen tersebut sebagai “deadline produktif”: semua inisiatif—dari event tematik hingga koridor kreatif—harus siap menjadi etalase kualitas Jakarta sebagai kota global, bukan sekadar ramai pengunjung.

Kuncinya adalah mengubah perayaan menjadi kontrak ekonomi: karya ditampilkan, produk dijual, kolaborasi ditandatangani, dan jaringan pasar dibuka. Dengan kata lain, 500 tahun Jakarta harus menjadi momentum ketika kreativitas bukan hanya dirayakan, tetapi dikomersialkan dengan cara yang sehat—menghargai kreator, menjaga kualitas, dan memperluas akses.

Desain Event Tematik yang Menghasilkan Kontrak dan Pasar

Event tematik yang efektif bekerja seperti “mesin kurasi.” Ia mempertemukan penjual dan pembeli dalam suasana yang membangun kepercayaan. Untuk subsektor fesyen, misalnya, event tidak cukup berupa peragaan busana. Perlu ada sesi buyer meeting, katalog yang siap diunduh, dan standar ukuran/produksi yang jelas agar pesanan bisa dipenuhi. Untuk kuliner, event harus didukung standar higienitas, sistem pembayaran nontunai yang stabil, serta pengelolaan antrean agar pengalaman pengunjung nyaman.

Di sinilah peran Pemerintah menjadi fasilitator kualitas. Kota bisa menyiapkan pedoman teknis yang tegas namun membantu: standar booth, tata suara, keamanan, hingga pengelolaan sampah. Ketika standar jelas, promotor juga lebih mudah menjual event ke sponsor global.

Jakarta juga dapat mempelajari akselerasi sektor pariwisata digital yang mendorong transaksi lintas negara, seperti yang diulas pada pertumbuhan startup pariwisata digital di Bali. Walau konteksnya berbeda, prinsipnya sama: pengalaman wisata dan pengalaman event harus terhubung ke platform pemesanan, ulasan, dan pemasaran berbasis data agar dampaknya melampaui hari-H.

Pemasaran Global dan Diplomasi Kota: Dari Produk ke Cerita

Pemasaran global untuk ekonomi kreatif tidak bisa hanya “menjual barang.” Ia harus menjual cerita: asal-usul, nilai budaya, dan keunikan desain. Jakarta punya modal sejarah, keberagaman, dan eklektisisme urban yang bisa menjadi narasi kuat. Film, animasi, dan gim dapat menjadi kendaraan cerita, sementara kuliner dan fesyen menjadi pintu masuk pengalaman.

Namun, pemasaran global menuntut kesiapan kurasi. Produk harus konsisten kualitasnya, foto dan materi promosi harus profesional, serta kapasitas produksi harus memadai. Di sinilah fasilitas kota—studio bersama, ruang foto produk, hingga pelatihan copywriting multibahasa—menjadi investasi yang relevan. Peta jalan dapat menetapkan “paket go-global” bagi pelaku terpilih: kurasi, pendampingan legal, dan pertemuan dengan agregator ekspor.

Koridor Kreatif dan Tata Kelola Wisata: Menjaga Daya Tarik Tanpa Mengorbankan Ketertiban

Koridor kreatif akan menarik keramaian dan wisatawan. Agar pertumbuhan tidak menimbulkan konflik, tata kelola wisata perlu jelas: jam operasi, pengendalian kerumunan, hingga aturan yang menjaga ketertiban dan kenyamanan warga. Pelajaran bisa diambil dari pendekatan regulasi wisata yang lebih ketat di daerah tujuan wisata, misalnya yang dibahas dalam pengetatan aturan wisata di Bali. Intinya bukan membatasi kreativitas, melainkan memastikan daya tarik kota bertahan karena kualitas dan ketertiban.

Jika koridor kreatif dikelola seperti destinasi kelas dunia—bersih, aman, terkurasi—maka pelaku bisnis kreatif akan menikmati arus pengunjung yang stabil. Pada titik itu, peta jalan tidak lagi berupa dokumen, melainkan kebiasaan tata kelola yang konsisten dari minggu ke minggu. Insight akhirnya: perayaan besar hanya akan bermakna bila kota menyiapkan sistem yang membuat peluang terus datang setelah panggung dibongkar.

Berita terbaru
Berita terbaru

En bref Di Jakarta, cerita tentang karier tidak lagi bergerak lurus: seseorang bisa menjadi staf

Pagi di lereng Gangga sering dimulai dengan aroma tanah basah dan suara petani memeriksa tanaman.

Di Makassar, pembenahan kearsipan tak lagi sekadar soal memindahkan map ke rak yang lebih rapi.

Di Jakarta Selatan, gagasan tentang pangan sehat tak lagi berhenti pada poster gizi di posyandu

Di Kota Solo, narasi tentang batik, keraton, dan kuliner tradisional kini berjalan beriringan dengan cerita

En bref Di Perth, perdebatan tentang masa depan kota tidak lagi sebatas transportasi dan harga