Amerika Serikat di California fokus pada pengembangan kendaraan listrik jarak jauh

amerika serikat di california berfokus pada pengembangan kendaraan listrik jarak jauh untuk meningkatkan transportasi ramah lingkungan dan efisiensi energi.

Di tengah melambatnya antusiasme global terhadap kendaraan listrik, satu wilayah di Amerika Serikat justru tampil seperti laboratorium raksasa yang tak mau mengerem: California. Ketika sejumlah pemerintah menunda target, produsen menata ulang jadwal peluncuran, dan konsumen makin kritis pada harga serta infrastruktur, negara bagian ini memilih fokus yang sangat spesifik—mendorong pengembangan mobil listrik untuk kebutuhan jarak jauh. Fokus itu tidak sekadar soal baterai lebih besar, tetapi juga soal cara orang bepergian antarkota, ketersediaan pengisian cepat, integrasi dengan energi terbarukan, dan standar kenyamanan yang membuat perjalanan panjang terasa “normal” seperti mengendarai kendaraan konvensional.

Di tahun-tahun terakhir, California sudah melampaui fase uji coba: jutaan kendaraan baterai terdaftar, pangsa penjualan kendaraan listrik pada mobil baru menembus kisaran seperempat pada awal tahun, dan jaringan pengisian cepat tumbuh agresif—bahkan target 10.000 pengisi daya cepat tercapai lebih cepat dari jadwal. Namun cerita utamanya bukan angka semata, melainkan perubahan perilaku. Keluarga yang biasa menempuh rute Los Angeles–San Francisco mulai menuntut pengalaman isi daya yang cepat dan dapat diprediksi. Perusahaan logistik menginginkan rute antarkota yang tidak membuat armada “menganggur”. Dari sini, California memusatkan taruhan pada transportasi berkelanjutan yang tetap praktis, sekaligus menjadi contoh bagaimana teknologi hijau harus berdamai dengan realitas ekonomi.

  • California menonjol di Amerika Serikat karena fokus pada perjalanan jarak jauh melalui perluasan pengisian cepat dan perencanaan jaringan koridor antarkota.
  • Gelombang penyesuaian kebijakan EV di berbagai negara mendorong pendekatan yang lebih pragmatis: hibrida tetap punya ruang, subsidi makin selektif.
  • Target pengisi daya cepat 10.000 port tercapai lebih cepat, tetapi kebutuhan total hingga 2030 diproyeksikan menembus satu juta titik (publik dan privat).
  • Produsen dan operator jaringan (termasuk Tesla dan pemain lain) mengubah strategi: keandalan, interoperabilitas, dan biaya pengisian menjadi medan persaingan baru.
  • Pembahasan jarak jauh tidak hanya soal baterai, tetapi juga manajemen beban listrik, integrasi energi terbarukan, dan pengalaman pengguna di jalan tol.

California sebagai pusat pengembangan kendaraan listrik jarak jauh di Amerika Serikat

Pada saat banyak negara meninjau ulang target elektrifikasi, California mempertahankan narasi berbeda: bukan “seberapa cepat semuanya harus listrik”, melainkan “bagaimana listrik bekerja untuk kebutuhan yang paling sulit”—perjalanan panjang, rute antarkota, dan penggunaan intensif. Fokus ini selaras dengan realitas geografi California: jarak antar pusat ekonomi cukup jauh, pola komuter bercampur antara urban dan suburban, serta budaya road trip yang melekat sejak era jalan raya pascaperang. Dengan kata lain, kendaraan listrik di sini diuji pada skenario yang paling menantang, sehingga hasilnya relevan untuk banyak wilayah lain di Amerika Serikat.

Data registrasi dan adopsi di California sering dipakai sebagai “indikator awal” tren nasional. Ketika seperempat mobil baru pada awal tahun sudah berupa kendaraan baterai, itu bukan sekadar kemenangan pemasaran; itu berarti bengkel, apartemen, pusat perbelanjaan, hingga pengelola jalan tol harus menyesuaikan layanan. Di titik ini, topik pengembangan jarak jauh tidak bisa dipisahkan dari ekosistem: baterai, perangkat lunak, infrastruktur, dan kebijakan energi. California Energy Commission, misalnya, menekankan bahwa lonjakan pasokan model dari produsen harus diimbangi ketersediaan pengisian yang memadai. Pernyataan semacam ini terdengar teknis, tetapi dampaknya sangat sehari-hari: apakah perjalanan keluarga bisa dilakukan tanpa cemas mencari colokan?

Menariknya, California juga menempatkan hidrogen sebagai pelengkap untuk segmen tertentu, terutama untuk kebutuhan yang menuntut waktu pengisian sangat cepat atau aplikasi komersial spesifik. Pada 2023, jaringan stasiun hidrogen sudah melampaui puluhan lokasi dan diproyeksikan meningkat. Ini bukan berarti baterai kalah, melainkan strategi “portofolio” dalam teknologi hijau: memilih teknologi berdasarkan kasus penggunaan, bukan ideologi. Pendekatan semacam ini membuat California tetap konsisten pada tujuan bebas emisi jangka panjang, sembari memberi ruang transisi yang lebih realistis.

Agar lebih konkret, bayangkan karakter fiktif bernama Raka—seorang analis data yang tinggal di Sacramento dan rutin pergi ke Bay Area untuk bertemu klien. Di masa awal kepemilikan EV, ia mengatur jadwal ketat: berhenti di pengisi daya, menunggu, dan berharap stasiun tidak penuh. Kini, pengalaman Raka bergeser: ia memilih koridor dengan pengisian cepat yang padat, mengandalkan aplikasi untuk memprediksi ketersediaan port, dan mengisi daya singkat sambil membeli kopi. Perubahan kecil ini mencerminkan target besar: membuat perjalanan jarak jauh menjadi rutinitas, bukan proyek.

Aspek lain yang sering luput adalah standar dan interoperabilitas. Banyak kota dunia belajar dari standar global agar infrastruktur tidak terfragmentasi. Diskusi tentang acuan teknis seperti yang dirangkum pada standar kendaraan listrik di Tokyo membantu memahami mengapa California juga menekankan kompatibilitas jaringan: pengguna ingin pengalaman yang sama di mana pun mereka berhenti, tanpa “kartu khusus” yang membingungkan.

Jika ada satu pelajaran dari California, itu adalah bahwa inovasi otomotif untuk jarak jauh bukan sekadar menambah kapasitas baterai. Keunggulan kompetitif lahir dari orkestrasi: rute, pengisian, harga listrik, dan pengalaman pengguna yang dapat diprediksi. Insight akhirnya jelas: jarak jauh adalah ujian kedewasaan ekosistem, bukan hanya kemampuan mobil.

amerika serikat di california berfokus pada pengembangan kendaraan listrik jarak jauh untuk inovasi transportasi yang lebih ramah lingkungan dan efisien.

Infrastruktur pengisian cepat dan koridor antarkota: kunci mobil listrik jarak jauh di California

Pembicaraan tentang mobil listrik jarak jauh selalu kembali ke satu kata: kepastian. Pengemudi tidak hanya membutuhkan “ada pengisi daya”, tetapi “pengisi daya yang berfungsi, tersedia, dan cukup cepat”. California memahami ini lebih awal dibanding banyak wilayah lain di Amerika Serikat. Buktinya, target memasang 10.000 pengisi daya cepat tercapai hampir dua tahun lebih cepat dari jadwal 2025 yang pernah ditetapkan pada era Gubernur Jerry Brown. Angka tersebut bukan sekadar simbol; ia membentuk perilaku perjalanan antarkota, mengurangi kecemasan jarak tempuh, dan memicu investasi lanjutan di titik-titik strategis seperti simpul jalan tol dan kawasan komersial.

Dalam komposisi jaringan, kontribusi Supercharger sangat dominan—ribuan port dari total pengisi daya cepat. Dominasi ini memberi dua efek: mempercepat ketersediaan infrastruktur, tetapi juga menimbulkan diskusi tentang ketergantungan pada satu pemain dan perlunya akses yang lebih luas lintas merek. Di lapangan, pengguna merasakan manfaatnya melalui waktu pengisian yang makin singkat, sementara regulator dan operator jaringan berpikir keras tentang bagaimana memastikan kompetisi tetap sehat serta tarif tidak “liar” pada jam sibuk.

Namun, pengisi daya cepat hanyalah ujung tombak. Tantangan sebenarnya adalah skala. Laporan perencanaan energi California memperkirakan kebutuhan gabungan pengisi daya publik dan privat bisa melampaui satu juta titik pada 2030 untuk mendukung proyeksi registrasi EV yang dapat mencapai jutaan unit. Artinya, selain koridor antarkota, fokus besar ada pada pengisian di rumah, apartemen, kantor, dan pusat belanja—lokasi di mana kendaraan lebih lama parkir. Inilah alasan mengapa investasi miliaran dolar diarahkan bukan hanya ke “charger di pinggir jalan”, tetapi juga pada kesiapan jaringan listrik, perizinan, dan program untuk gedung multiunit.

Untuk membantu pembaca melihat gambaran besarnya, berikut ringkasan sederhana mengenai tipe infrastruktur yang berpengaruh pada jarak jauh dan dampaknya bagi pengguna.

Komponen ekosistem
Peran untuk perjalanan jarak jauh
Tantangan utama
Contoh dampak bagi pengguna
Pengisian cepat (DC fast charging)
Mengurangi waktu berhenti di koridor antarkota
Antrian, reliabilitas perangkat, kebutuhan daya tinggi
Berhenti 15–30 menit terasa “wajar” seperti istirahat
Pengisian AC di rumah/kantor
Menjamin baterai penuh sebelum berangkat jauh
Akses untuk penghuni apartemen, biaya instalasi
Rute jauh dimulai dari kondisi baterai optimal
Manajemen jaringan listrik
Mencegah lonjakan beban saat jam puncak
Koordinasi utilitas, investasi gardu, tarif
Harga dan ketersediaan pengisian lebih stabil
Perangkat lunak & navigasi
Mengarahkan ke stasiun terbaik dan prediksi ketersediaan
Kualitas data real-time, integrasi lintas operator
Lebih sedikit putar balik karena stasiun penuh

Di luar tabel, ada faktor “kota” yang sering menentukan kenyamanan perjalanan jarak jauh: parkir, akses keluar-masuk stasiun, dan ketertiban ruang publik. Banyak kota menyadari bahwa teknologi saja tidak cukup tanpa tata kelola. Kebijakan seperti penataan zona parkir di Makassar memperlihatkan bagaimana pengaturan ruang bisa memengaruhi arus kendaraan—logika yang sama berlaku saat menempatkan charger cepat agar tidak menyebabkan kemacetan di area komersial.

Satu lagi dimensi penting adalah ketahanan infrastruktur terhadap cuaca ekstrem. California menghadapi gelombang panas, kebakaran hutan, dan risiko pemadaman. Pengisi daya cepat yang tersebar tanpa cadangan daya atau perencanaan ketahanan bisa menjadi titik rapuh. Karena itu, tren terbaru adalah menggabungkan stasiun pengisian dengan penyimpanan energi (battery storage) dan, di beberapa lokasi, kanopi surya. Ini mempertemukan energi terbarukan dengan kebutuhan mobilitas, membuat pengisian lebih tahan terhadap fluktuasi jaringan.

Pada akhirnya, koridor antarkota yang sukses bukan yang punya charger paling banyak di satu titik, melainkan yang menghadirkan ritme: tersedia secara merata, mudah diakses, dan dapat diandalkan. Insight penutupnya: jarak jauh menjadi mungkin ketika infrastruktur dikelola seperti layanan publik—bukan sekadar perangkat keras yang dipasang lalu ditinggal.

Untuk melihat dinamika jaringan pengisian cepat dan pengalaman pengguna, banyak pengemudi mengandalkan ulasan video lapangan dan uji rute.

Teknologi hijau dan inovasi otomotif: dari baterai hingga efisiensi untuk jarak jauh

Jika infrastruktur adalah panggungnya, maka teknologi kendaraan adalah pemain utamanya. Dalam konteks California, pengembangan kendaraan listrik jarak jauh bergerak ke arah efisiensi sistem, bukan semata membesarkan baterai. Baterai besar memang meningkatkan jangkauan, tetapi juga menambah bobot, biaya, dan jejak material. Karena itu, pabrikan dan pemasok mulai menonjolkan strategi yang lebih “cerdas”: aerodinamika lebih halus, manajemen termal yang presisi, pengurangan hambatan gulir ban, serta perangkat lunak yang mengoptimalkan konsumsi energi berdasarkan elevasi dan cuaca.

Di jalan tol California, perubahan kecil pada efisiensi bisa berarti besar. Selisih konsumsi beberapa kWh per 100 km dapat menentukan apakah pengemudi perlu berhenti dua kali atau cukup sekali. Itulah sebabnya fitur seperti preconditioning baterai (memanaskan/mendinginkan baterai sebelum pengisian cepat) menjadi standar pengalaman jarak jauh. Saat baterai berada pada suhu ideal, pengisian bisa mempertahankan daya tinggi lebih lama. Bagi pengguna seperti Raka, ini terasa sederhana: ia tinggal mengikuti navigasi, mobil “menyiapkan diri” sebelum tiba di stasiun, lalu waktu menunggu lebih pendek.

Selain baterai, sistem penggerak juga berevolusi. Motor listrik generasi baru lebih efisien pada kecepatan jelajah, inverter semakin hemat, dan beberapa model mengadopsi arsitektur tegangan lebih tinggi agar pengisian cepat lebih stabil. Di sisi lain, pabrikan juga mempertimbangkan hibrida sebagai jembatan—sejalan dengan sinyal kebijakan federal yang memberi fleksibilitas pencapaian emisi rendah. Pendekatan ini sering diperdebatkan, tetapi dari sudut pandang adopsi massal, ia memberi opsi bagi konsumen yang belum percaya diri sepenuhnya pada infrastruktur.

Komponen lain yang jarang dibahas adalah desain pengalaman “berhenti mengisi”. Perusahaan mulai memperlakukan stasiun pengisian sebagai bagian dari perjalanan: pencahayaan, keamanan, fasilitas, hingga integrasi pembayaran. Kota-kota yang mengembangkan sistem cerdas—misalnya konsep smart lighting di Kupang—menggambarkan bagaimana infrastruktur publik dapat dibuat lebih aman dan nyaman. Dalam konteks California, stasiun pengisian yang terang dan terpantau meningkatkan rasa aman, terutama bagi pengemudi yang berhenti malam hari di rute jarak jauh.

Lalu bagaimana dengan hubungan teknologi hijau dan energi terbarukan? California mendorong integrasi keduanya melalui tarif waktu-penggunaan dan program respons permintaan. Pengisian pada jam tertentu didorong agar selaras dengan produksi surya siang hari atau angin malam, mengurangi tekanan pada jaringan saat puncak. Ini mengubah EV menjadi “beban fleksibel” yang bisa diatur, bukan masalah baru. Dalam beberapa pilot, kendaraan bahkan diposisikan sebagai cadangan energi melalui konsep vehicle-to-grid (V2G), terutama untuk armada atau bus sekolah—meski implementasinya memerlukan standar dan insentif yang matang.

Untuk segmen tertentu, hidrogen juga muncul sebagai bagian dari inovasi otomotif rendah emisi, walau skalanya belum sebesar baterai. Konektivitas rantai pasok hidrogen—misalnya pembelajaran dari inisiatif pelabuhan hidrogen di Hamburg—menunjukkan bahwa transportasi bersih tidak berdiri sendiri; ia terkait logistik energi, penyimpanan, dan distribusi. California memanfaatkan pelajaran global semacam ini untuk membangun ekosistem yang lebih tangguh.

Di penghujung bagian ini, satu hal menonjol: inovasi jarak jauh yang paling cepat diadopsi adalah inovasi yang tidak terasa “baru” bagi pengguna—ia bekerja diam-diam, membuat perjalanan panjang semakin biasa. Insight akhirnya: kemenangan teknologi bukan ketika dipuji, tetapi ketika pengemudi berhenti memikirkannya.

Diskusi publik mengenai efisiensi, baterai, dan kebijakan sering mengemuka dalam forum otomotif dan kanal uji jalan.

Realitas ekonomi global dan dampaknya pada strategi California: dari idealisme ke pragmatisme

Di panggung global, dorongan menuju elektrifikasi tidak lagi bergerak dengan ritme yang sama seperti beberapa tahun lalu. Inflasi, suku bunga tinggi, serta kekhawatiran konsumen terhadap harga kendaraan mendorong banyak pemerintah dan produsen menyesuaikan langkah. Di Amerika Serikat, pemerintah federal memberi ruang “fleksibilitas” bagi industri untuk memenuhi standar emisi rendah, termasuk dengan mengakui peran hibrida. Kanada mengisyaratkan peninjauan target 2035, Inggris menggeser jadwal pelarangan mobil bensin baru, dan di Uni Eropa muncul tarik-ulur atas implementasi paket kebijakan yang ambisius. Bahkan Tiongkok—meski tetap dominan dalam volume—mengalami perlambatan pertumbuhan dan perang harga yang menekan margin.

California bergerak di tengah arus itu, tetapi tidak sepenuhnya mengikuti. Justru karena ketidakpastian global, fokus pada pengembangan kendaraan listrik jarak jauh menjadi cara untuk menjaga nilai praktis EV. Ketika subsidi menurun atau syaratnya makin ketat, konsumen akan bertanya: “Apa manfaat nyata yang saya dapat?” Untuk California, jawabannya harus terkait kegunaan: bisa dipakai bekerja, bepergian antarkota, dan tetap hemat dalam total biaya kepemilikan. Dengan cara ini, adopsi tidak bergantung pada insentif semata.

Survei opini di AS yang menunjukkan penurunan minat—dari mayoritas yang lebih tinggi menjadi sekitar pertengahan 40% yang masih berminat dalam beberapa tahun ke depan—menjadi pengingat bahwa pasar dapat jenuh. Penyebabnya berlapis: harga awal tinggi, kekhawatiran jarak tempuh, dan biaya listrik yang naik di beberapa wilayah. California menanggapi problem ini melalui dua jalur. Pertama, memperluas infrastruktur agar pengalaman jarak jauh membaik. Kedua, menekan biaya non-kendaraan: perizinan instalasi, transparansi tarif pengisian, dan dukungan untuk pengisian di apartemen agar penghuni tanpa garasi tidak menjadi “kelas dua” dalam transisi.

Tekanan ekonomi juga memaksa produsen melakukan “realignment”: menunda sebagian model, menyesuaikan kapasitas baterai, atau mengalihkan investasi. Ini tidak otomatis buruk. Dalam banyak kasus, langkah tersebut menyaring proyek yang tidak efisien dan mendorong fokus pada model yang benar-benar dibutuhkan pasar. California, dengan basis pengguna yang besar, menjadi tempat uji apakah strategi baru ini berhasil. Jika suatu model EV jarak jauh laku di California tanpa diskon ekstrem, besar kemungkinan ia punya daya saing nasional.

Ada pula dimensi pekerjaan dan industri lokal. Di negara lain, kekhawatiran kehilangan pekerjaan manufaktur tradisional memicu resistensi politik. California menyeimbangkannya dengan memposisikan ekosistem EV sebagai lapangan kerja baru—mulai dari pemasangan pengisi daya, teknisi jaringan, sampai pengembangan perangkat lunak manajemen energi. Pendekatan ini mengingatkan bahwa transportasi berkelanjutan bukan sekadar pilihan konsumen, melainkan transformasi ekonomi daerah.

Ketahanan perkotaan dan infrastruktur publik juga ikut menentukan. Kota yang menata drainase, penerangan, dan keamanan digital lebih siap mengelola titik-titik pengisian yang ramai. Contoh pembenahan layanan dasar seperti perbaikan drainase di Surakarta mengilustrasikan prinsip yang sama: transisi teknologi akan mudah “mentok” jika fondasi layanan publik diabaikan. Untuk California, fondasinya adalah jaringan listrik yang tangguh, perizinan yang cepat, dan tata ruang yang mengurangi friksi bagi pengguna.

Bagian paling penting dari pragmatisme ini adalah kejujuran terhadap kendala: tidak semua orang bisa membeli EV mahal. Karena itu, strategi jarak jauh yang berhasil harus ikut membuka pasar mobil bekas, memperkuat nilai jual kembali, dan memperluas pilihan model dengan harga lebih masuk akal. Insight akhirnya: transisi yang bertahan lama bukan yang paling cepat, melainkan yang paling mampu menampung realitas dompet dan kebiasaan masyarakat.

Model transportasi berkelanjutan untuk perjalanan jauh: integrasi energi terbarukan, kota cerdas, dan perilaku pengguna

Membuat kendaraan listrik unggul untuk jarak jauh berarti membangun sistem, bukan produk tunggal. Sistem itu mencakup listrik yang lebih bersih, kota yang lebih siap, dan kebiasaan pengguna yang berevolusi. California, sebagai pelopor teknologi hijau di Amerika Serikat, menguji model integrasi yang relevan untuk banyak tempat: pengisian cepat di koridor, pengisian lambat di destinasi, serta orkestrasi beban listrik agar selaras dengan produksi energi terbarukan. Ketika sistem berjalan mulus, pengalaman pengguna terasa sederhana: berkendara, berhenti singkat, lalu lanjut—tanpa drama.

Di level energi, integrasi paling nyata terlihat dari kombinasi pembangkit surya skala besar, penyimpanan energi, dan pengaturan tarif. Pengisian siang hari dapat “memanen” limpahan produksi surya, sementara pengisian malam hari bisa menyeimbangkan beban ketika permintaan rumah tangga menurun. Bagi operator jaringan, EV bukan ancaman bila dikelola; ia bahkan bisa menjadi alat stabilisasi. Untuk armada komersial, pola pengisian terjadwal membuat biaya lebih prediktif, membantu kalkulasi rute jarak jauh dan produktivitas kendaraan.

Di level kota, konsep “kota cerdas” menjadi penopang, bukan gimmick. Kamera pemantau, sensor parkir, dan sistem penerangan adaptif membantu area pengisian tetap aman dan tertib. Pembelajaran dari implementasi seperti CCTV pintar untuk keamanan menunjukkan bagaimana teknologi bisa meningkatkan rasa aman di ruang publik yang aktif 24 jam. Stasiun pengisian cepat sering beroperasi malam hari, sehingga aspek keamanan bukan detail kecil; ia penentu apakah keluarga merasa nyaman berhenti di rute jarak jauh.

Perilaku pengguna juga berubah. Jika dulu orang mengisi bensin saat tangki hampir kosong, pola EV cenderung “opportunity charging”: mengisi saat ada kesempatan, bukan hanya saat terpaksa. Untuk perjalanan jauh, ini berarti pengemudi merencanakan berhenti yang menyatu dengan kebutuhan biologis dan sosial—makan, istirahat, bertemu teman. Di sinilah desain area pengisian menjadi bagian dari pengalaman perjalanan. Pusat perbelanjaan dan rest area yang menyediakan pengisian cepat, toilet bersih, dan makanan layak akan “menang” dalam peta rute pengguna.

Ketahanan lingkungan juga ikut menentukan keberlanjutan. California menghadapi risiko kebakaran dan cuaca ekstrem, sehingga perencanaan fasilitas publik harus mempertimbangkan evakuasi, akses air, dan sistem darurat. Pelajaran kesiapsiagaan wilayah seperti yang dibahas pada kesiapsiagaan pesisir di Aceh mengingatkan bahwa infrastruktur modern tetap butuh skenario bencana. Untuk jaringan pengisian, artinya cadangan daya, rute alternatif, dan komunikasi publik yang jelas saat terjadi gangguan.

Terakhir, ada dimensi sosial: akses yang adil. Penghuni apartemen, pekerja bergaji menengah, dan komunitas pinggiran kota tidak boleh tertinggal. Program pengisian di gedung multiunit, subsidi instalasi panel, serta penempatan pengisi daya di perpustakaan atau pusat komunitas dapat menjadi jembatan. Ketika transisi terasa inklusif, dukungan publik lebih stabil, dan transportasi berkelanjutan berubah dari proyek elite menjadi kebiasaan massal.

Insight penutupnya: California menunjukkan bahwa jarak jauh adalah cermin integrasi—ketika energi, kota, dan perilaku selaras, kendaraan listrik tidak lagi dipandang sebagai kompromi, melainkan sebagai standar baru mobilitas modern.

Berita terbaru
Berita terbaru

En bref Di Jakarta, cerita tentang karier tidak lagi bergerak lurus: seseorang bisa menjadi staf

Pagi di lereng Gangga sering dimulai dengan aroma tanah basah dan suara petani memeriksa tanaman.

Di Makassar, pembenahan kearsipan tak lagi sekadar soal memindahkan map ke rak yang lebih rapi.

Di Jakarta Selatan, gagasan tentang pangan sehat tak lagi berhenti pada poster gizi di posyandu

Di Kota Solo, narasi tentang batik, keraton, dan kuliner tradisional kini berjalan beriringan dengan cerita

En bref Di Perth, perdebatan tentang masa depan kota tidak lagi sebatas transportasi dan harga