Program pembiayaan murah untuk petani diperluas di Jawa Tengah

Di Jawa Tengah, cerita tentang harga cabai yang naik-turun bukan sekadar urusan dapur, melainkan soal ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi rakyat. Ketika cuaca ekstrem membuat panen tak menentu, petani sering berada di persimpangan: tetap menanam dengan risiko tinggi atau menahan diri karena modal terbatas. Dalam situasi seperti itulah program pembiayaan yang lebih murah dan terukur menjadi penyangga penting. Di berbagai sentra produksi—dari Magelang hingga Temanggung—akses pembiayaan murah melalui BPR BKK Jateng (Perseroda) serta penguatan jalur serap dan distribusi lewat BUMD JTAB (Jateng Agro Berdikari) mulai membentuk pola baru: petani tidak hanya diminta produktif, tetapi juga diberi ekosistem agar berani berproduksi. Program “Petani Gajian” yang digerakkan bersama Tani Merdeka Indonesia DPW Jateng menambah dimensi lain: kepastian pendapatan selama masa tanam, pendampingan budidaya, hingga proteksi risiko melalui Jamkrida Jateng. Kombinasi ini membuat topik pembiayaan pertanian tak lagi berhenti pada pinjaman, melainkan menjadi strategi daerah menata pasokan, menjaga inflasi, dan memperkuat martabat profesi petani.

  • Program pembiayaan diperluas melalui kolaborasi BPR BKK Jateng, Tani Merdeka Indonesia, JTAB, dan Jamkrida Jateng.
  • Skema “Petani Gajian” menawarkan pendapatan rutin selama masa tanam, sekaligus pendampingan teknis dan manajemen usaha.
  • Pembiayaan murah dan kredit tani dipakai sebagai instrumen menjaga pasokan cabai dan menekan gejolak harga.
  • JTAB berperan sebagai off taker agar panen terserap dengan harga yang lebih adil dan mekanisme transparan.
  • Jamkrida Jateng memberi perlindungan saat terjadi force majeure seperti gagal panen akibat cuaca ekstrem.
  • Model koperasi di Magelang menunjukkan bagaimana pembiayaan, pendampingan, dan tata niaga bisa menaikkan posisi tawar petani.

Perluasan program pembiayaan murah di Jawa Tengah: dari akses modal ke strategi stabilisasi pangan

Perluasan program pembiayaan untuk petani di Jawa Tengah lahir dari kebutuhan yang sangat nyata: biaya produksi naik, iklim makin sulit ditebak, dan pasar sering bergerak lebih cepat daripada kemampuan petani mengantisipasi. Pada titik ini, dukungan finansial bukan sekadar “pinjaman”, melainkan alat kebijakan untuk memastikan petani berani menanam pada waktu yang tepat sehingga pasokan tidak putus. Ketika pasokan terjaga, harga menjadi lebih stabil; ketika harga stabil, konsumen tenang; ketika petani untung, roda ekonomi desa berputar. Rantai logika ini menjelaskan mengapa kredit berbunga rendah dan tata niaga yang rapi menjadi pembahasan serius di tingkat provinsi.

Di lapangan, pembiayaan murah lewat BPR BKK Jateng (Perseroda) diposisikan sebagai alternatif dari pinjaman informal berbunga tinggi yang kerap memangkas margin petani. Skema yang sehat membuat petani bisa menghitung biaya pupuk, benih, tenaga kerja, sampai ongkos pengendalian hama tanpa rasa waswas dikejar bunga. Ini sangat krusial pada komoditas hortikultura seperti cabai yang panennya bertahap dan sensitif terhadap cuaca. Dalam konteks 2026, ketika intensitas hujan dan periode panas panjang sering bergantian, kepastian pembiayaan membantu petani menyiapkan perlindungan lahan (mulsa, irigasi sederhana, atau pompa) sejak awal.

Namun, akses modal saja tidak cukup. Pemerintah provinsi menautkan pembiayaan dengan penguatan distribusi dan serapan panen. Karena itu, BUMD JTAB diproyeksikan menjadi penguat rantai pasok: bukan menggantikan pedagang, melainkan menjadi penyeimbang agar jalur distribusi tidak timpang. Bila suatu wilayah surplus cabai, JTAB dapat membantu memindahkan pasokan ke daerah defisit. Mekanisme ini menekan potensi kelangkaan di pasar tertentu dan memotong ruang spekulasi harga. Apakah ini berarti harga selalu rendah? Tidak. Targetnya adalah harga yang menguntungkan petani sekaligus terjangkau, sebuah keseimbangan yang menuntut data tanam, kalender panen, dan koordinasi antarwilayah.

Dalam beberapa agenda daerah, gerakan petani peduli inflasi cabai menjadi simbol bahwa urusan cabai tidak bisa ditangani dengan operasi pasar semata. Akar masalahnya sering berada di hulu: modal terlambat, input mahal, dan petani menanam serempak tanpa koordinasi. Perluasan kredit berbunga rendah dimaksudkan untuk memecah pola itu. Ketika petani memiliki akses kredit tani yang cepat dan pendampingan penjadwalan tanam, mereka bisa menyebar waktu tanam sehingga puncak panen tidak bertabrakan.

Untuk memperluas dampak, skema pembiayaan juga dipadukan dengan pendekatan kelembagaan. Koperasi dan gapoktan menjadi simpul yang memudahkan verifikasi, pencairan, hingga edukasi literasi keuangan. Dalam praktik, koperasi yang sehat dapat menegosiasikan pembelian sarana produksi secara kolektif sehingga biaya turun. Di sinilah istilah subsidi perlu dibaca secara lebih luas: bukan hanya bantuan langsung, tetapi juga penghematan biaya melalui skala ekonomi, pelatihan, dan akses pasar. Pada akhirnya, perluasan pembiayaan murah di Jawa Tengah bergerak dari kebijakan “memberi pinjaman” menuju desain ekosistem pengembangan pertanian yang terukur—dan itu menjadi fondasi untuk membahas model “Petani Gajian” pada bagian berikutnya.

Skema “Petani Gajian”: pemberdayaan petani lewat pendapatan rutin, pendampingan, dan pasar yang dijamin

Di antara berbagai inovasi pembiayaan, program “Petani Gajian” menonjol karena mengubah cara pandang terhadap pendapatan petani. Selama ini, banyak keluarga tani hidup dari pola pemasukan musiman: uang masuk saat panen, lalu menipis ketika masa tanam berikutnya dimulai. Skema ini membuat pengelolaan rumah tangga rapuh—biaya sekolah, cicilan motor, atau kebutuhan kesehatan datang setiap bulan, bukan saat panen. Melalui kerja sama strategis Tani Merdeka Indonesia DPW Jawa Tengah dengan BPR BKK Jateng, program ini mencoba menjembatani kebutuhan itu: petani memperoleh arus kas rutin selama masa tanam, sementara produksi tetap berjalan dengan pendampingan yang ketat.

Arsitektur programnya berbasis kolaborasi multipihak. BPR BKK Jateng menyediakan fasilitas pembiayaan usaha tani yang terukur. Tani Merdeka Indonesia mendampingi budidaya sekaligus manajemen usaha—mulai dari pencatatan biaya, pengaturan tenaga kerja, hingga strategi pengendalian organisme pengganggu tanaman. JTAB berperan sebagai off taker agar panen terserap dengan mekanisme yang transparan. Sementara itu, Jamkrida Jateng menanggung sebagian risiko pembiayaan jika terjadi kondisi force majeure seperti gagal panen akibat bencana atau cuaca ekstrem. Bila dirangkum, petani tidak dibiarkan “berjuang sendirian” menghadapi risiko produksi dan ketidakpastian pasar.

Untuk membumikan konsep ini, bayangkan kisah Sari, petani cabai di lereng Merbabu yang sebelumnya mengandalkan pinjaman dari pengepul. Bunga tidak tertulisnya tinggi, dan harga jual sering “diatur” karena ia harus membayar utang. Ketika masuk program, Sari menerima pembiayaan dari lembaga formal dengan skema pembayaran yang lebih aman. Ia juga diminta membuat catatan sederhana: berapa biaya bibit, pupuk, pestisida nabati, dan upah harian. Pendamping lapangan mengajarkan cara membaca tanda-tanda serangan trips dan antraknosa lebih cepat, sehingga penyemprotan bisa tepat waktu. Saat panen datang, JTAB menyerap sesuai standar kualitas dan kesepakatan harga. Dampaknya terasa bukan hanya pada laba, tetapi pada ketenangan rumah tangga karena ada pendapatan bulanan yang lebih terprediksi.

Skema gajian ini juga punya implikasi sosial: ia membantu membangun citra bahwa bertani bisa menjadi profesi modern dengan perencanaan finansial. Narasi ini penting untuk regenerasi, ketika anak muda sering menilai pertanian terlalu berisiko dan tidak menjanjikan. Jika pendapatan bisa dikelola seperti “gaji”, petani lebih mudah mengatur cicilan alat pertanian kecil, membayar asuransi, atau bahkan menabung untuk memperluas lahan sewa. Dari sisi kebijakan, ini sejalan dengan agenda pemberdayaan petani yang menempatkan petani sebagai pelaku usaha, bukan penerima bantuan pasif.

Menariknya, pembelajaran program ini selaras dengan literasi dan akses pengetahuan. Banyak kelompok tani memanfaatkan pertemuan rutin di balai desa, perpustakaan desa, atau ruang komunitas sebagai tempat berbagi praktik baik. Beberapa wilayah mengaitkan penguatan kapasitas ini dengan kegiatan literasi publik—sejalan dengan semangat revitalisasi ruang belajar lokal seperti yang banyak dibahas dalam konteks revitalisasi perpustakaan di Semarang. Ketika akses informasi meningkat, petani lebih siap mengadopsi teknik baru, membaca peluang pasar, dan memahami kontrak kemitraan secara lebih kritis. Insight utamanya: “Petani Gajian” bukan sekadar skema dana, melainkan model tata kelola risiko dan pendapatan yang membuat keputusan tanam menjadi lebih rasional.

Dalam praktiknya, banyak pembaca bertanya: apakah program semacam ini bisa berjalan tanpa membebani anggaran? Kuncinya ada pada pembagian peran—pembiayaan oleh bank daerah, pendampingan oleh organisasi, serapan oleh BUMD, dan mitigasi risiko oleh penjamin. Untuk menggambarkan ekosistemnya secara ringkas, berikut tabel komponen utama yang biasanya dijalankan.

Komponen Ekosistem
Peran Utama
Manfaat Langsung bagi Petani
Contoh Implementasi
BPR BKK Jateng
Penyedia pembiayaan murah dan skema cicilan terukur
Modal tepat waktu, beban bunga lebih ringan
Pembiayaan sarana produksi dan biaya tanam
Tani Merdeka Indonesia
Pendampingan budidaya dan manajemen usaha
Produktivitas meningkat, pencatatan keuangan lebih rapi
Pelatihan GAP, pengendalian hama berbasis monitoring
JTAB
Off taker dan penguatan distribusi antarwilayah
Pasar lebih jelas, harga lebih adil dan transparan
Kontrak serap panen dan pengiriman ke wilayah defisit
Jamkrida Jateng
Penjaminan risiko pembiayaan pada kondisi force majeure
Rasa aman, akses kredit lebih mudah
Proteksi jika gagal panen karena cuaca ekstrem

Studi kasus cabai Magelang: koperasi, CSR, dan pola panen bertahap sebagai penopang produktivitas

Magelang sering disebut sebagai salah satu wajah keberhasilan hortikultura di Jawa Tengah, terutama ketika komoditas cabai menjadi penentu psikologi pasar. Studi kasus di Kecamatan Pakis memberi gambaran bagaimana pembiayaan, kelembagaan, dan disiplin budidaya bisa menghasilkan panen stabil. Dalam beberapa musim, kelompok tani mampu menjaga ritme panen yang rapat—bahkan pada satu hamparan, panen bisa berlangsung berkali-kali dalam interval beberapa hari. Model seperti ini penting karena cabai bukan padi: ia menuntut perawatan intensif, respons cepat terhadap cuaca, dan manajemen tenaga kerja yang presisi.

Salah satu pelajaran yang sering muncul adalah peran koperasi sebagai “mesin koordinasi”. Koperasi seperti Pancarga Tani Gemilang (dengan basis anggota yang besar dan pengelolaan lahan ratusan hektare) mampu merencanakan kebutuhan sarana produksi secara kolektif. Ketika koperasi memesan mulsa, ajir, atau pupuk dalam jumlah besar, harga bisa lebih murah daripada pembelian eceran. Di sinilah pembiayaan murah menjadi lebih efektif: dana yang dipinjam tidak habis untuk biaya yang seharusnya bisa ditekan. Koperasi juga membantu menjaga standar kualitas, karena serapan pasar—baik oleh pedagang besar maupun off taker seperti JTAB—umumnya mensyaratkan sortasi yang konsisten.

Dukungan lain datang dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) BPR BKK Jateng yang diarahkan untuk memperkuat kelembagaan petani. CSR yang tepat sasaran tidak sekadar bantuan alat, melainkan peningkatan kapasitas: timbangan, fasilitas sortasi, pelatihan pencatatan, hingga perbaikan akses air di titik kritis. Bila digabung dengan kredit tani, CSR berfungsi sebagai akselerator—mempercepat petani mencapai efisiensi tanpa menambah beban cicilan. Apakah CSR bisa menggantikan subsidi? Tidak, namun ia dapat melengkapi subsidi yang ada dengan pendekatan lebih fleksibel sesuai kebutuhan lokal.

Di tingkat budidaya, kisah kelompok yang menanam sejak pertengahan 2024 dan mampu memanen puluhan kali hingga tanaman berumur ratusan hari menunjukkan pentingnya manajemen tanaman sehat. Panen bertahap membutuhkan pengairan stabil, pemupukan berimbang, dan kontrol hama yang disiplin. Jika salah satu elemen ini terganggu, produksi turun dan biaya per kilogram naik. Dalam konteks 2026, tantangan cuaca ekstrem membuat petani cabai harus mengeluarkan biaya tambahan untuk naungan sederhana atau perbaikan drainase agar akar tidak busuk saat hujan panjang. Lagi-lagi, akses modal murah memberi ruang untuk investasi kecil yang berdampak besar.

Dari sisi tata niaga, kehadiran “champion” atau pengatur pola tanam di tingkat kawasan membantu menyeimbangkan suplai antarwilayah. Ketika Pakis surplus, pasokan bisa diarahkan ke wilayah yang defisit, sehingga gejolak harga dapat diredam tanpa menekan petani. Di titik ini, peran pemerintah daerah dan kementerian menjadi penguat koordinasi data—siapa menanam apa, kapan panen, dan jalur distribusi mana yang paling cepat. Sering kali, masalah bukan produksi, melainkan logistik dan informasi. Karena itu, memperbaiki arus data sama pentingnya dengan memperbesar produksi.

Untuk petani, dampak paling terasa adalah meningkatnya posisi tawar. Mereka tidak lagi hanya “menunggu harga”, melainkan bisa merencanakan penjualan lewat koperasi, memanfaatkan offtaker, dan menggunakan pembiayaan untuk menjaga kualitas hingga panen. Insight akhirnya sederhana namun kuat: stabilitas pasokan cabai adalah hasil kerja kolektif—dan pembiayaan yang tepat adalah bahan bakar agar kerja kolektif itu terus berjalan.

Teknis akses kredit tani yang aman: mitigasi risiko, penjaminan, dan disiplin manajemen usaha pertanian

Memperluas kredit tani tanpa memperkuat mitigasi risiko justru bisa memindahkan masalah dari hulu ke hilir: petani mendapat modal, tetapi ketika panen gagal, utang menumpuk dan kepercayaan lembaga pembiayaan turun. Karena itu, skema di Jawa Tengah makin menekankan desain pembiayaan yang “aman” bagi dua pihak. Di lapangan, risiko pertanian datang dari banyak arah: cuaca ekstrem, fluktuasi harga, serangan hama, hingga gangguan distribusi. Petani membutuhkan dukungan finansial yang disertai alat perlindungan, bukan sekadar dana cair.

Peran penjamin seperti Jamkrida Jateng penting karena ia menjadi jembatan kepercayaan. Ketika terjadi kondisi force majeure, penjaminan memberi ruang restrukturisasi atau klaim sesuai skema yang disepakati. Ini membuat lembaga pembiayaan lebih berani menyalurkan modal kepada kelompok yang layak, termasuk petani kecil yang sebelumnya sulit mengakses kredit formal. Bagi petani, efek psikologisnya juga besar: mereka bisa fokus pada produksi tanpa dihantui ketakutan jika bencana datang. Apakah ini berarti risiko hilang? Tidak. Namun risiko menjadi lebih terkelola dan tidak menghancurkan rumah tangga tani sekaligus.

Aspek lain yang sering menentukan keberhasilan pembiayaan adalah disiplin manajemen usaha. Pendampingan dari organisasi seperti Tani Merdeka Indonesia menekankan pencatatan sederhana: berapa biaya per bedeng, berapa liter pupuk cair, berapa hari kerja, dan berapa hasil panen per petak. Pencatatan ini terdengar remeh, tetapi menjadi dasar untuk menghitung kelayakan usaha dan menentukan besaran pinjaman yang realistis. Tanpa data biaya, petani sering meminjam berdasarkan “kebutuhan kira-kira”, lalu kesulitan membayar karena arus kas tidak sesuai.

Agar praktik ini mudah dipahami, banyak pendamping menggunakan contoh harian. Misalnya, petani cabai menetapkan target hasil minimum per minggu untuk menutup biaya tenaga petik dan pengangkutan. Jika hasil turun dua kali berturut-turut, mereka segera evaluasi: apakah pemupukan terlambat, apakah drainase buruk, atau ada serangan hama yang belum terdeteksi. Pola ini membuat keputusan budidaya lebih cepat. Dalam jangka panjang, petani menjadi lebih bankable—lebih dipercaya lembaga keuangan karena punya data dan rencana kerja.

Dalam konteks kebijakan, subsidi tetap relevan, tetapi perlu diarahkan agar menambah produktivitas, bukan sekadar menutup biaya. Subsidi benih unggul, pelatihan, atau penguatan irigasi kecil sering memberi dampak lebih tahan lama daripada bantuan konsumtif. Jawa Tengah juga bisa belajar dari diskursus global tentang ketahanan energi dan biaya logistik pertanian—misalnya bagaimana kebijakan energi memengaruhi harga pupuk dan ongkos distribusi, yang banyak dibahas dalam konteks kebijakan energi Uni Eropa. Keterkaitan global ini terasa nyata di desa: ketika input naik, kebutuhan pembiayaan meningkat, dan desain cicilan harus menyesuaikan.

Untuk membantu petani dan kelompok tani menyiapkan diri mengakses pembiayaan secara sehat, berikut daftar praktik yang sering dianjurkan di lapangan. Daftar ini bukan teori, melainkan kebiasaan yang membedakan pinjaman produktif dari pinjaman yang menjadi beban.

  • Susun rencana tanam dan panen berbasis kalender cuaca lokal, bukan hanya kebiasaan turun-temurun.
  • Pisahkan uang usaha dan uang rumah tangga agar cicilan dan kebutuhan produksi tidak saling memakan.
  • Buat pencatatan biaya minimal per minggu: input, tenaga kerja, dan hasil panen.
  • Gunakan kelembagaan (kelompok tani/koperasi) untuk pembelian bersama agar biaya input turun.
  • Pahami skema penjaminan dan kondisi klaim force majeure sebelum menandatangani pembiayaan.
  • Pastikan kanal pemasaran (off taker atau kontrak) agar harga tidak sepenuhnya spekulatif.

Jika disiplin ini terbentuk, pembiayaan tidak lagi dipandang sebagai utang semata, melainkan sebagai alat untuk menaikkan skala usaha. Insight penutup bagian ini: kredit yang sehat lahir dari kombinasi data, pendampingan, perlindungan risiko, dan pasar yang jelas—empat elemen yang akan semakin menentukan arah pengembangan pertanian Jawa Tengah.

Pemberdayaan petani dan pengembangan pertanian: regenerasi, literasi, serta ekosistem pasar yang lebih adil

Jika pembiayaan adalah mesin, maka pemberdayaan petani adalah setir yang menentukan ke mana mesin itu melaju. Jawa Tengah menghadapi tantangan regenerasi: banyak anak muda memilih kerja di sektor lain karena bertani dianggap berat dan tidak pasti. Karena itu, memperluas program pembiayaan perlu dibarengi strategi membangun daya tarik profesi petani. Skema seperti “Petani Gajian” membantu mengubah persepsi karena memberikan ritme pendapatan yang lebih teratur, tetapi daya tarik jangka panjang tetap bertumpu pada kompetensi, akses teknologi, dan ekosistem pasar yang menghargai kualitas.

Salah satu pendekatan yang makin menonjol adalah mengaitkan pembiayaan dengan pelatihan pertanian modern ramah lingkungan. Petani muda biasanya cepat menerima inovasi: irigasi tetes sederhana, sensor kelembapan murah, aplikasi pencatatan, hingga pemasaran digital. Ketika modal tersedia lewat pembiayaan murah, investasi alat skala kecil menjadi mungkin. Ini membuat produktivitas naik tanpa selalu memperluas lahan. Dalam praktik, petani yang mampu menjaga kualitas dan kontinuitas suplai lebih mudah masuk rantai pasok modern—baik hotel, restoran, katering, maupun pasar antardaerah yang dikelola lebih profesional.

Di sisi lain, literasi menjadi fondasi yang sering diabaikan. Literasi di sini bukan hanya kemampuan membaca, melainkan kemampuan memahami kontrak, menghitung margin, membandingkan skema cicilan, dan menilai risiko. Banyak komunitas tani memanfaatkan ruang publik untuk belajar bersama: balai desa, ruang koperasi, sampai perpustakaan yang diaktifkan kembali. Gagasan penguatan ruang belajar lokal ini nyambung dengan dinamika kota-kota di Jawa Tengah yang mendorong fasilitas literasi agar lebih hidup—contoh yang sering jadi rujukan adalah praktik komunitas yang dibicarakan dalam program revitalisasi perpustakaan. Ketika literasi meningkat, petani tidak mudah terjebak praktik ijon modern dan lebih berani menegosiasikan harga.

Ekosistem pasar yang lebih adil juga menuntut transparansi. Peran off taker seperti JTAB penting, tetapi transparansi harus turun sampai ke level timbangan, sortasi, dan potongan kualitas. Petani perlu tahu mengapa harga A berbeda dengan harga B, apa standar kadar air atau tingkat kematangan, dan bagaimana biaya logistik dihitung. Di koperasi yang sehat, informasi ini dibuka dalam rapat anggota. Dari sini, kepercayaan tumbuh, dan petani mau mengikuti standar kualitas karena memahami manfaatnya. Tanpa transparansi, program sebaik apa pun akan dianggap “menguntungkan pihak tertentu”.

Aspek kebijakan energi dan logistik juga makin relevan terhadap pertanian. Ongkos distribusi hasil panen dan input sering dipengaruhi harga energi. Wacana internasional tentang transisi energi—seperti yang dibahas pada pembahasan kebijakan energi Eropa—memantul ke tingkat lokal melalui harga pupuk, plastik mulsa, dan bahan bakar. Karena itu, pengembangan pertanian perlu memperhitungkan efisiensi energi: penggunaan pompa hemat listrik, perencanaan rute distribusi, dan pengurangan susut pascapanen agar setiap liter bahan bakar menghasilkan nilai lebih besar.

Untuk memperkuat keberlanjutan, pembiayaan sebaiknya diarahkan pada komoditas prioritas daerah (cabai, bawang, sayuran dataran tinggi) sekaligus diversifikasi agar petani tidak bergantung pada satu komoditas. Diversifikasi juga mengurangi risiko harga. Sebagai contoh, petani cabai dapat menanam sela berupa sayuran daun cepat panen untuk menjaga arus kas, sementara cabai menunggu masa puncak. Skema ini membuat “gajian” terasa lebih nyata karena ada pemasukan tambahan dari tanaman sela. Pada akhirnya, pemberdayaan bukan slogan: ia terlihat ketika petani mampu membuat keputusan usaha dengan data, punya akses modal yang manusiawi, dan berada dalam pasar yang menghargai kerja mereka—sebuah arah yang ingin dicapai Jawa Tengah lewat perluasan pembiayaan dan penguatan ekosistem.

Berita terbaru
Berita terbaru

En bref Di Jakarta, cerita tentang karier tidak lagi bergerak lurus: seseorang bisa menjadi staf

Pagi di lereng Gangga sering dimulai dengan aroma tanah basah dan suara petani memeriksa tanaman.

Di Makassar, pembenahan kearsipan tak lagi sekadar soal memindahkan map ke rak yang lebih rapi.

Di Jakarta Selatan, gagasan tentang pangan sehat tak lagi berhenti pada poster gizi di posyandu

Di Kota Solo, narasi tentang batik, keraton, dan kuliner tradisional kini berjalan beriringan dengan cerita

En bref Di Perth, perdebatan tentang masa depan kota tidak lagi sebatas transportasi dan harga