En bref
- Kota Manado mendorong program parenting yang lebih positif agar keluarga muda memiliki bekal praktis dalam pengasuhan.
- Arah kebijakan menekankan pendidikan anak, pemantauan perkembangan anak, dan penguatan komunikasi keluarga berbasis rutinitas harian.
- Kolaborasi lintas lembaga (komunitas, sekolah, gereja, kampus, layanan kesehatan) menjadi kunci agar dukungan orang tua tidak terputus.
- Pendekatan digital (kelas video, aplikasi) memperluas akses pembelajaran pengasuhan, termasuk inisiatif seperti The Parenting Project.
- Ukuran keberhasilan dilihat dari perubahan perilaku di rumah: disiplin yang konsisten, relasi hangat, dan meningkatnya kesejahteraan keluarga.
Di Manado, percakapan tentang pengasuhan tidak lagi berhenti pada “anak harus nurut” atau “orang tua harus tegas”. Warga—terutama keluarga muda yang baru belajar menata ritme rumah tangga—semakin membutuhkan rujukan yang ramah, praktis, dan bisa dipakai dalam situasi sehari-hari: saat anak tantrum di warung, saat orang tua lelah sepulang kerja, atau ketika gawai mulai mengambil alih waktu bersama. Karena itu, berbagai inisiatif program parenting yang menekankan pola asuh positif mulai menguat: ada kelas komunitas, seminar di sekolah dan gereja, hingga materi video yang dapat diakses lewat aplikasi. Fokusnya bukan sekadar teori psikologi populer, melainkan membangun kebiasaan kecil yang memperbaiki komunikasi keluarga, menata disiplin tanpa kekerasan, serta menjaga ketahanan emosi orang tua.
Perubahan ini terasa relevan di 2026, ketika keluarga muda menghadapi tekanan ganda: tuntutan produktivitas kerja sekaligus ekspektasi pengasuhan yang “sempurna” di media sosial. Di sisi lain, isu kesehatan dan gizi—termasuk pencegahan stunting—membuat diskusi pendidikan anak dan perkembangan anak menjadi semakin terhubung dengan layanan kesehatan. Manado bergerak dengan logika yang sederhana namun kuat: jika orang tua mendapat dukungan orang tua yang memadai, rumah menjadi ruang aman untuk bertumbuh; dan jika rumah menguat, kesejahteraan keluarga ikut terdongkrak. Dari titik inilah, agenda pembinaan keluarga menjadi cerita penting yang layak diikuti.
Program parenting positif di Manado: dari kampanye pengasuhan ke praktik harian keluarga muda
Pengembangan program parenting di Manado semakin diarahkan pada hal-hal yang bisa langsung dicoba di rumah. Pola asuh positif dipahami bukan sebagai “memanjakan anak”, melainkan sebagai cara mendidik yang hangat, tegas, dan konsisten. Bagi keluarga muda, pendekatan seperti ini menjawab kebingungan klasik: bagaimana menetapkan aturan tanpa bentak-bentak, bagaimana membangun kedekatan tanpa mengorbankan kewibawaan, dan bagaimana mengelola emosi orang tua agar tidak meledak pada anak.
Di banyak kelas parenting lokal, fasilitator biasanya memulai dari situasi nyata. Misalnya, kisah “Rina dan Dimas” (tokoh rekaan), pasangan muda di Manado yang anaknya berusia 4 tahun mulai menolak mandi dan tantrum saat diminta berhenti menonton. Mereka mencoba strategi hukuman, tetapi konflik makin sering. Dalam kerangka parenting positif, mereka diajak mengubah urutan: memberi pilihan terbatas (“Mau mandi pakai sabun jeruk atau sabun stroberi?”), memberi peringatan waktu (“Lima menit lagi video selesai”), lalu menutup dengan konsekuensi logis (“Kalau belum mandi, waktu bacanya jadi lebih singkat karena sudah malam”). Perubahan kecil ini sering menjadi pintu masuk yang membuat orang tua merasa “ternyata ada cara lain”.
Memetakan kebutuhan pengasuhan: 0–6 tahun berbeda dengan usia sekolah
Salah satu kekuatan pendekatan di Manado adalah membedakan kebutuhan berdasarkan tahap tumbuh kembang. Pada usia dini, perkembangan anak lebih banyak ditopang oleh rutinitas, rasa aman, dan stimulasi sederhana. Orang tua diajak memahami bahwa perilaku menolak, melawan, atau banyak bertanya sering kali merupakan bagian normal dari perkembangan, bukan “anak nakal”. Sementara pada usia sekolah, fokus bergeser ke pembentukan kebiasaan belajar, manajemen layar, dan penguatan karakter seperti tanggung jawab.
Di sinilah pendidikan anak bertemu dengan realitas rumah. Banyak keluarga muda menghadapi jadwal padat; karena itu materi pengasuhan disusun seperti “resep harian”: dialog sebelum tidur, ritual makan tanpa gawai 20 menit, atau kegiatan akhir pekan yang murah namun kaya interaksi. Ketika praktik-praktik ini diulang, dampaknya perlahan terasa pada suasana rumah yang lebih tenang.
Komunikasi keluarga sebagai inti program: mendengar sebelum mengarahkan
Modul yang paling sering dianggap “mengubah permainan” adalah latihan komunikasi keluarga. Orang tua tidak hanya diajarkan memilih kata yang lebih lembut, tetapi juga belajar mendengar secara aktif: mengulang perasaan anak (“Kamu kesal karena mainannya diambil”), memberi batas (“Tetap tidak boleh memukul”), dan menawarkan alternatif (“Kalau marah, kita tarik napas lalu bilang ‘aku tidak suka’”). Ini bukan teknik instan, namun ketika dilakukan konsisten, anak merasa dipahami dan lebih mudah diarahkan.
Banyak fasilitator juga menautkan tema ini dengan literasi digital keluarga. Keluarga muda sering bertanya: “Bagaimana menyiapkan anak menghadapi dunia online?” Salah satu rujukan yang bisa dibaca untuk konteks etika digital adalah pelatihan etika digital, yang memberi gambaran bagaimana kebiasaan online dapat dibentuk melalui aturan rumah dan teladan orang tua. Pada akhirnya, parenting positif di Manado bukan jargon, melainkan serangkaian kebiasaan yang menguatkan relasi. Insight akhirnya jelas: disiplin yang paling efektif lahir dari kedekatan, bukan ketakutan.

Pembinaan keluarga terintegrasi: pelatihan pengasuh, pemantauan tumbuh kembang, dan rujukan layanan
Pengasuhan jarang berhasil bila hanya mengandalkan satu kanal, misalnya seminar sekali lalu selesai. Karena itu, arah pembinaan keluarga di Manado makin menekankan layanan yang saling terhubung: pelatihan pengasuh, pemantauan perkembangan anak, edukasi parenting, hingga mekanisme rujukan bila anak membutuhkan intervensi khusus. Model ini terasa dekat dengan pendekatan “empat layanan” yang banyak dibicarakan komunitas lokal: menguatkan pengasuh, memantau tumbuh kembang, memberi edukasi, dan menyediakan rujukan.
Di tingkat keluarga, manfaatnya konkret. Misalnya, ketika orang tua merasa anaknya terlambat bicara, mereka tidak hanya menerima nasihat umum. Mereka bisa diarahkan untuk melakukan skrining awal, mendapatkan latihan stimulasi di rumah, dan jika perlu dirujuk ke layanan profesional. Ini membuat dukungan orang tua menjadi nyata, bukan sekadar motivasi.
Stunting, gizi, dan pengasuhan: satu paket kesejahteraan keluarga
Manado juga melihat keterkaitan erat antara pengasuhan dan kesehatan. Program sosialisasi Bangga Kencana dan edukasi pencegahan stunting yang pernah digelar di lingkungan gereja atau komunitas menjadi contoh bagaimana isu gizi masuk ke ruang parenting. Dalam keluarga muda, keputusan sederhana—jadwal makan, variasi menu, kebiasaan jajan, hingga kualitas tidur—berpengaruh pada tumbuh kembang. Karena itu, edukasi pengasuhan yang baik akan selalu menyentuh rutinitas makan, kebersihan, dan aktivitas fisik.
Contoh kasus: pasangan muda yang terbiasa memberi anak minuman manis setiap malam agar “tidur cepat”. Dalam kelas parenting positif, mereka diajak mengevaluasi dampaknya pada kesehatan gigi, kualitas tidur, dan perilaku. Solusinya bukan menyalahkan, tetapi mengganti kebiasaan secara bertahap: minum air putih, ritual tenang sebelum tidur, dan cerita singkat. Perubahan kecil seperti ini sering menjadi fondasi kesejahteraan keluarga yang lebih luas.
Peran pengasuh dan keluarga besar: menyamakan bahasa di rumah
Di Manado, banyak keluarga muda dibantu kakek-nenek atau pengasuh. Tantangan muncul ketika gaya pengasuhan tidak selaras: orang tua melarang gawai, tetapi pengasuh memberi gawai agar anak tenang. Maka, pelatihan pengasuh menjadi penting agar aturan rumah tidak “bocor”. Yang dibangun bukan kontrol, melainkan kesepakatan: kapan layar boleh, bagaimana menenangkan anak tanpa ancaman, serta bagaimana memberi konsekuensi yang konsisten.
Agar mudah diterapkan, beberapa penyelenggara menyusun pedoman singkat yang bisa ditempel di kulkas. Berikut contoh daftar yang sering dipakai dalam kelas pengasuhan di keluarga muda:
- Aturan 3K: Konsisten aturan, Komunikasi tenang, Konsekuensi logis.
- Waktu khusus: 10 menit per hari tanpa gawai untuk “waktu milik anak”.
- Validasi emosi: sebut perasaan anak sebelum memberi arahan.
- Ritual keluarga: makan bersama minimal 3 kali seminggu.
- Bahasa yang sama: pengasuh dan orang tua memakai kalimat batas yang disepakati.
Integrasi layanan seperti ini membuat program di Manado tidak berhenti pada kelas, tetapi bergerak ke ekosistem. Insight akhirnya: pengasuhan yang kuat lahir dari sistem pendukung, bukan perjuangan sendirian.
Untuk memperluas perspektif, banyak keluarga juga mengikuti konten edukatif yang tersedia luas, termasuk liputan komunitas dan organisasi lokal. Sebagian orang tua mencari referensi dari kanal berita komunitas, misalnya Manado Community untuk mengikuti agenda kegiatan, atau mengakses halaman Family Indonesia sebagai gambaran rancangan program penguatan peran keluarga. Ada pula yang merujuk pada materi tentang pencegahan stunting dan pengasuhan di masyarakat seperti edukasi parenting positif dan pencegahan stunting (contoh rujukan dokumen), lalu mendiskusikannya kembali dengan kader atau guru PAUD setempat.
Manado dan pembelajaran digital: kelas video, aplikasi, dan literasi pengasuhan yang lebih merata
Digitalisasi mengubah cara keluarga muda belajar. Jika dulu parenting identik dengan seminar tatap muka di akhir pekan, kini materi bisa diakses setelah anak tidur, di sela perjalanan, atau saat menunggu antrean. Bagi Manado—kota dengan dinamika kerja dan mobilitas yang tinggi—format video singkat, modul bertahap, dan komunitas online membantu orang tua tetap bertumbuh tanpa merasa tertinggal.
Salah satu contoh program yang menunjukkan arah ini adalah The Parenting Project, rangkaian kelas pengasuhan berbasis video yang dapat diakses lewat aplikasi. Program ini dirancang untuk membantu gereja melatih orang tua membesarkan anak berdasarkan prinsip Alkitab. Pada 14 Juni 2024, perwakilan Majelis Pendidikan Kristen (MPK) Indonesia hadir dalam peluncurannya—diwakili oleh Grace Deborah Khumara dan Susan dari sekretariat—sebagai sinyal bahwa pendidikan keluarga tidak hanya menjadi urusan rumah, tetapi juga ekosistem sekolah dan komunitas iman.
Dari peristiwa masa kecil ke kualitas relasi dewasa: alasan program digital dibutuhkan
Gagasan yang sering ditekankan dalam materi pemuridan orang tua adalah ini: banyak persoalan di usia dewasa berakar pada pengalaman masa kecil di rumah, termasuk luka emosional yang tidak terselesaikan. Karena itu, program pengasuhan modern tidak hanya bicara “cara menertibkan anak”, tetapi juga memulihkan pola relasi. Dalam praktiknya, orang tua diajak memeriksa ulang kebiasaan yang diwarisi: apakah kita mengulang pola bentak? Apakah kita menuntut prestasi tanpa memberi rasa aman?
Format digital memudahkan proses refleksi karena materi bisa diulang. Orang tua dapat menonton ulang topik tentang disiplin, lalu mencoba selama seminggu, dan kembali lagi saat menemui hambatan. Ini memperkuat dukungan orang tua yang sifatnya berkelanjutan, bukan musiman.
Manfaat yang dicari keluarga muda: dekat, terarah, dan siap menghadapi tantangan
Manfaat yang sering dicatat peserta program semacam ini antara lain: orang tua lebih paham cara mendidik anak, relasi makin dekat, disiplin lebih terstruktur, karakter anak terbentuk, dan kesiapan menghadapi tantangan meningkat. Namun yang paling penting adalah efek domino di rumah: ketika orang tua belajar mengelola emosi, anak merasakan keamanan; ketika anak aman, konflik menurun; saat konflik menurun, kesejahteraan keluarga meningkat.
Di Manado, contoh penerapannya bisa sederhana. Rina dan Dimas yang sebelumnya mudah tersulut, kini membuat “rapat keluarga” lima menit setiap Minggu sore. Mereka bertanya: apa yang menyenangkan minggu ini, apa yang sulit, dan aturan apa yang perlu diingat. Anak tidak selalu menjawab rapi, tetapi kebiasaan ini melatih komunikasi keluarga dan memberi anak ruang bicara.
Akses program dan kolaborasi sekolah: dari gereja ke ruang belajar
Untuk mengikuti The Parenting Project, gereja dapat mendaftar gratis melalui portal The Parenting Project, lalu memperoleh pelatihan, dukungan sistem, dan akses aplikasi. Dalam sesi tanya jawab peluncuran, Direktur CBN Indonesia Mark McClendon menyampaikan rencana penandatanganan MoU dengan MPK Indonesia agar implementasi dapat menjangkau sekolah-sekolah Kristen secara lebih mudah. Hingga periode peluncuran, tercatat 511 gereja dari beragam sinode telah mendaftar—angka yang menunjukkan kebutuhan kuat akan pembinaan keluarga yang terstruktur.
Di 2026, ketika sekolah semakin terbiasa dengan platform belajar, kerja sama semacam ini menjadi peluang untuk menyelaraskan pendidikan anak di sekolah dan di rumah. Insight akhirnya: konten digital efektif ketika didukung komunitas yang membuatnya hidup dalam kebiasaan harian.
Kerangka kerja program parenting positif: indikator, agenda mingguan, dan contoh penerapan di rumah
Agar program parenting di Manado tidak berhenti sebagai slogan, banyak fasilitator menyusun kerangka kerja yang bisa diukur. Orang tua biasanya tidak butuh istilah akademik yang rumit; mereka butuh jawaban: “Kalau saya melakukan ini, perubahan apa yang saya harapkan dalam dua minggu?” Karena itu, indikator keberhasilan dibuat sederhana: frekuensi konflik menurun, anak lebih cepat merespons arahan, orang tua lebih tenang, dan rutinitas keluarga lebih rapi.
Kerangka ini juga memudahkan keluarga muda membagi peran. Dalam banyak rumah, beban pengasuhan jatuh pada satu orang. Padahal, dukungan orang tua yang efektif berarti ada pembagian tugas: siapa mengurus rutinitas pagi, siapa mendampingi belajar, siapa menyiapkan waktu bermain. Ketika pembagian peran jelas, energi emosional orang tua lebih terjaga, sehingga pendekatan positif lebih mungkin bertahan.
Tabel rencana 4 minggu untuk komunikasi keluarga dan disiplin positif
Berikut contoh rencana sederhana yang sering dipakai fasilitator untuk membangun kebiasaan. Rencana ini bisa disesuaikan dengan usia anak dan ritme kerja orang tua.
Minggu |
Fokus Utama |
Latihan Harian |
Indikator Perubahan |
|---|---|---|---|
1 |
Komunikasi keluarga: validasi emosi |
Sebut perasaan anak + batas perilaku (2 kalimat) |
Anak lebih cepat tenang setelah ditenangkan |
2 |
Disiplin positif: konsekuensi logis |
Buat 3 aturan rumah + konsekuensi yang terkait |
Orang tua lebih konsisten, konflik berkurang |
3 |
Pendidikan anak: rutinitas belajar |
15 menit “belajar ringan” tanpa gawai |
Anak terbiasa mulai tanpa ditarik paksa |
4 |
Perkembangan anak: kualitas waktu |
10 menit bermain mengikuti pilihan anak |
Relasi lebih hangat, anak lebih kooperatif |
Contoh penerapan: dari amarah ke regulasi emosi orang tua
Teknik yang sering dilatih adalah “jeda 10 detik”. Saat anak memancing emosi, orang tua berhenti sejenak: tarikan napas, bahu diturunkan, lalu berbicara dengan volume lebih rendah. Mengapa ini penting? Karena anak belajar regulasi emosi terutama dari model yang ia lihat. Ketika orang tua mampu mengelola reaksi, anak mendapat “peta” tentang cara menghadapi frustrasi.
Rina pernah bercerita (contoh naratif) bahwa ia merasa bersalah setelah membentak. Dalam sesi refleksi, fasilitator meminta ia mengganti narasi: bukan “saya ibu buruk”, tetapi “saya sedang belajar”. Lalu dibuat rencana perbaikan: meminta maaf pada anak, menjelaskan aturan, dan menyiapkan strategi saat lelah. Perubahan bahasa pada diri sendiri sering menjadi fondasi pengasuhan yang lebih sehat.
Rujukan komunitas: seminar, kampus, dan ruang belajar alternatif
Ekosistem pembelajaran di Manado juga ditopang oleh kegiatan dari kampus dan yayasan. Kegiatan pengabdian masyarakat bertema pengasuhan, seminar “building healthy family”, hingga pelatihan forum anak memperkaya perspektif orang tua. Rujukan seperti liputan kegiatan parenting di UNIMMAN membantu keluarga muda menemukan agenda yang relevan, sementara kanal seperti informasi seminar parenting di media sosial sering menjadi pintu awal sebelum mereka masuk ke kelas yang lebih terstruktur.
Pada akhirnya, kerangka kerja yang baik membuat pengasuhan terasa mungkin dilakukan. Insight akhirnya: program yang paling berdampak adalah yang mengubah rutinitas, bukan sekadar menambah pengetahuan.

Strategi kolaborasi lintas institusi di Manado: sekolah, gereja, komunitas, dan layanan kesehatan
Jika Manado ingin memastikan program parenting berkelanjutan, kolaborasi lintas institusi tidak bisa dihindari. Sekolah melihat anak dalam konteks belajar dan pergaulan; layanan kesehatan melihat aspek tumbuh kembang dan gizi; gereja dan komunitas melihat nilai, karakter, dan dukungan sosial. Ketika semua pihak berbicara dengan bahasa yang selaras, keluarga muda tidak merasa “ditarik ke banyak arah”. Mereka mendapatkan pesan yang konsisten: disiplin tanpa kekerasan, rutinitas sehat, dan relasi yang hangat.
Dalam praktik, kolaborasi bisa dimulai dari hal kecil. Misalnya, sekolah PAUD mengadakan pertemuan bulanan orang tua dengan topik tunggal—bukan rapat panjang membahas administrasi. Layanan kesehatan menyediakan sudut konsultasi singkat setelah penimbangan. Komunitas warga menyiapkan kelas pengasuhan untuk ayah (yang sering absen dari forum). Gereja mengembangkan pemuridan keluarga berbasis modul video agar orang tua punya rujukan yang sama di rumah.
Menjembatani nilai dan sains: pengasuhan yang hangat sekaligus terukur
Sering ada anggapan bahwa nilai-nilai keluarga dan pendekatan ilmiah tidak sejalan. Padahal, keduanya bisa saling menguatkan. Nilai memberi arah (mengapa kita mendidik), sementara sains memberi alat (bagaimana kita mendidik). Program seperti The Parenting Project menawarkan kerangka berbasis iman, sedangkan edukasi kesehatan menambahkan aspek gizi dan stimulasi. Ketika dijahit rapi, orang tua tidak bingung memilih; mereka mendapat paket utuh untuk pendidikan anak dan perkembangan anak.
Kolaborasi juga penting untuk menghadapi isu era digital: paparan konten, perundungan online, dan kecanduan layar. Orang tua membutuhkan panduan yang realistis, bukan larangan total yang sulit dijalankan. Di titik ini, artikel seperti panduan etika digital untuk keluarga bisa dipakai sebagai bahan diskusi lintas komunitas: sekolah menyusun kebijakan, orang tua menerapkan di rumah, komunitas mengawasi lingkungan bermain.
Skema dukungan: dari kelas umum ke pendampingan kasus
Program yang matang biasanya punya dua jalur. Jalur pertama adalah edukasi umum: kelas komunikasi, disiplin, dan rutinitas. Jalur kedua adalah pendampingan kasus: ketika ada anak dengan kebutuhan khusus, orang tua dengan stres tinggi, atau konflik keluarga yang berlarut. Jalur kedua membutuhkan rujukan yang jelas agar keluarga tidak tersesat dari satu pintu ke pintu lain.
Di Manado, pendekatan rujukan yang baik juga melindungi privasi keluarga. Orang tua lebih berani mencari bantuan ketika prosesnya manusiawi: tidak menghakimi, tidak membocorkan cerita, dan memberi langkah konkret. Dalam banyak pengalaman, begitu orang tua merasa ditopang, mereka lebih mampu menerapkan pola asuh positif di rumah.
Menjaga kesinambungan: komunitas praktik untuk orang tua
Keberlanjutan sering menjadi titik lemah program. Antusias tinggi di awal, lalu memudar. Karena itu, banyak penggerak membangun “komunitas praktik”: grup kecil orang tua yang bertemu rutin (offline atau online) untuk saling berbagi perkembangan. Mereka tidak sekadar berbagi keluhan, tetapi juga mencatat apa yang berhasil dan apa yang perlu diperbaiki. Model ini membuat pembinaan keluarga menjadi proses yang hidup.
Di akhir setiap pertemuan, satu pertanyaan sederhana menjaga fokus: “Kebiasaan apa yang akan kita coba minggu ini?” Pertanyaan itu membuat perubahan terasa dekat dan terukur. Insight akhirnya: kolaborasi yang paling kuat bukan yang paling ramai, melainkan yang paling konsisten mendampingi keluarga muda dari minggu ke minggu.